Program Studi Bimbingan dan Konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muria Kudus Menyiapkan Gerenasi Muda yang memiliki Intelektualitas, Integritas dan Kredibilitas untuk Menjadi Konselor yang Cerdas dan Santun PERANAN LAYANAN KONSELING INDIVIDUAL BAGI PERKEMBANGAN BINA DIRI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SEKOLAH ABK GOLDEN KIDS ~ Program Studi Bimbingan dan Konseling

Kamis, 13 September 2012

PERANAN LAYANAN KONSELING INDIVIDUAL BAGI PERKEMBANGAN BINA DIRI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI SEKOLAH ABK GOLDEN KIDS

Oleh: Ronny Gunawan

Dosen UKI Jakarta 


BAB I
PENDAHULUAN


Dalam perkembangan dunia pendidikan di jaman sekarang ini, kita dapat melihat dunia pendidikan semakin maju, sebagai contoh pembelajaran yang dahulunya hanya berpusat pada guru (teacher centered learning), di mana guru hanya menerapkan sistem pengajaran satu arah (one way), namun sekarang berkembang menjadi pembelajaran berpusat pada peserta didik (student centered learning), di mana guru menggunakan pembelajaran dua arah (two way) atau pembelajaran banyak arah (two way). Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik  ini bertujuan untuk mengembangkan kemampuan (Life Skill) atau yang lebih dikenal dengan kompetensi peserta didik. Guru berusaha agar teori yang diajarkan bukan hanya dihafal oleh peserta didik namun juga dimengerti bahkan dapat di aplikasikan dalam kehidupan peserta didik sehari-hari.
Pandangan atau tinjauan di atas berulas dari diri peserta didik reguler atau kelas anak-anak normal, lalu bagaimana dengan kelas anak-anak yang berkebutuhan khusus (special needs). Anak-anak berkebutuhan khusus juga memerlukan bantuan dan bimbingan guru untuk mereka mengembangkan bakat dan kemampuan mereka (Life Skill), termasuk karakter yang di dalamnya terkait dengan bina diri mereka seperti layaknya anak-anak normal.

Pandangan mengenai anak berkebutuhan khusus yang dikupas dalam makalah ini adalah anak berkebutuhan khusus yang memiliki symdrom seperti autis, ADHA, ADD, speed delay, dan sebagainya, bukan yang mengarah pada gangguan fisik, seperti tuna rungu, tuna wicara, kebutaan mata, dan sebagainya, meskipun gangguan fisik tersebut juga merupakan anak-anak kebutuhan khusus.
Di sekolah kadangkala kita melihat dua pembagian peserta didik, yaitu peserta didik normal dan peserta didik berkebutuhan khusus. Ada kalanya ini terjadi karena, banyak orangtua anak berkebutuhan khusus memasukannya ke sekolah normal. Hal ini banyak terjadi di sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Sekolah Dasar (SD), karena pada awal-awalnya ada beberapa ciri-ciri anak berkebutuhan khusus hampir sama dengan anak normal, namun apabila telah masuk ke dalam proses belajar mengajar yang lebih dalam, barulah guru mengetahui bahwa peserta didiknya adalah anak berkebutuhan khusus.
Oleh sebab itu melalui tulisan ini marilah kita mengenal seperti apa anak berkebutuhan khusus tersebut dan bagaimana melayani anak-anak seperti ini layaknya mereka adalah anak normal. Lalu  bagaimana peranan konseling sekolah dalam melayani anak-anak berkebutuhan khusus. Yang perlu kita pahami adalah mendidik anak-anak berkebutuhan khusus adalah sama dengan pendidikan seperti yang diberikan kepada anak-anak normal lainnya, namun anak-anak berkebutuhan khusus memerlukan perlakuan dan bimbingan yang khusus pula. Kalau dalam mendidik anak normal supaya Life Skill anak-anak tersebut berkembanga, sama halnya dengan anak-anak berkebutuhan khusus mereka juga perlu mengembangakan kemampuan yang mereka miliki.
Disinilah sebenarnya peranan guru Bimbingan dan Konseling dalam memberikan layanan kepada anak-anak berkebutuhan khusus. Layanan yang dapat diberikan kepada anak-anak berkebutuhan khusus oleh guru Bimbingan dan Konseling seperti layanan bimbingan invidividu, layanan konseling indvidu dalam membentuk bina diri anak-anak berkebutuhan khusus.
Bina diri merupakan salah satu indikator dari karakter. Seorang anak berkebutuhan khusus adalah pribadi yang berharga sama seperti anak normal lainnya. Anak berkebutuhan khusus bukan hanya memerlukan terapi melainkan juga memerlukan pendidikan untuk menumbuhkan kembangkan potensi yang ada di dalam dirinya. Oleh sebab itu guru Bimbingan dan Konseling juga perlu menguasai konseling individual dalam menumbuh kembangkan karakter anak berkebutuhan, khususnya bina diri anak, seperti sopan santun dalam berucap kata, memakai pakaian, menerima dan memberi dengan tangan kanan, serta sosialisasi mereka dengan teman-teman atau lingkungan.
   Perihal di ataslah yang menjadi landasan dalam penulisan makalah ini, yaitu Peranan Layanan Konseling Individual bagi Perkembangan Bina Diri Anak Berkebutuhan Khusus.

 BAB II
PEMBAHASAN


Anak berkebutuhan khusus merupakan anak-anak yang memiliki karakteristik tersendiri. Karakteristik anak-anak berkebutuhan khusus dapat dilihat dari perilaku mereka apabila dibandingkan dengan anak-anak normal. Kadangkala perilaku yang dimunculkan oleh anak-anak berkebutuhan khusus layaknya seperti anak-anak normal, sehingga guru pada awalnya belum dapat membedakan pribadi dan perilaku anak-anak berkebutuhan khusus dengan anak-anak normal. Setelah proses belajar mengajar berjalan beberapa waktu lamanya, barulah guru mengenal bahwa ada yang berbeda dengan salah satu muridnya di kelas. Sebagai contoh anak umur 5 tahun (TK B) yang mengalami kebutuhan khusus “speed delay”, perilaku dan wajah mereka sama dengan anak-anak normal, namun apabila kita amati mereka mengalami keterlambatan dalam berbicara.
Anak berkebutuhan khusus ini adalah anak-anak yang memerlukan pembimbingan dan pembelajaran khsuus dari orang-orang disekitarnya. Mereka bukanlah seperti anak-anak normal lainnya, namun ada syndrome (gangguan) yang perlu diperhatikan dari hidup mereka oleh para guru.
Dalam perkembangan jaman ini kita dapat menemui anak-anak yang mengalami kebutuhan khusus, seperti Autis, Attention Dificit Hyperactivity Disorder (ADHD), asperger, disleksia, speed delays, dan sebagainya. Anak berkebutuhan khusus bukanlah sebuah penyakit apalagi penyakit mental atau gangguan kejiwaan, melainkan sebuah syndrom yang masih perlu diteliti lebih jauh lagi apa penyebabnya. Ada beberapa syndrom yang dapat dipulihkan seperti speed delays, namun ada beberapa syndrom yang tidak dapat dipulihkan seratus persen. Namun para pendidik janganlah berpikiran negatif terhadap anak-anak berkebutuhan khusus karena mereka dapat menjadi lebih pintar dibidangnya dibanding dengan anak-anak normal lainnya. Oleh sebab itu mereka perlu dimbimbing secara khusus sesuai dengan kondisi yang mereka alami dengan perlakuan khusus, sehingga mereka dapat menemukan dan mengembangkan kemampuan mereka.
Dibawah ini penulis mencoba menyajikan beberapa pengertian mengenai anak berkebutuhan khusus: Autis adalah sebuah syndrome yang mempengaruhi interaksi sosial bagi si penyandang, mereka lebih condong kepada interaksi dengan dirinya sendiri. Gejala autis ini sebenarnya dapat dideteksi sejak dini dari umur kurang dua tahun, di mana anak-anak yang memiliki syndrom atau gangguan autis ini memiliki tatapan mata yang sangat kurang (bukan gangguan penglihatan). Anak-anak seperti ini lebih memperhatikan dirinya dan kebutuhan dirinya sendiri dibanding dengan lingkungan sosialnya. Mereka lebih sering berbicara sendiri (bukan gangguan mental), mereka lebih senang bermain sendiri, bahkan mereka lebih senang berkarya sendiri seperti, dalam bidang matematika, seni, ataupun musik.  Mereka juga sering mengalami gangguan perilaku seperti mengamuk di tengah keramaian apabila di rasa ada yang tidak nyaman pada dirinya; sering “membeo” apabila ditanya, “kamu dari mana?”, mereka tidak menjawab namun mereka mengulang pertanyaan itu “kamu dari mana?”
Attention Dificit Hyperactivity Disorder (ADHD), syndrom ini merupakan gangguan perhatian pada anak, yaitu anak tidak bertahan lama apabila diminta perhatiannya atau mereka cepat beralih ke pandangan lain yang disertai dengan perilaku yang hiperaktif. Perilaku hiperkatif untuk anak ADHD disini bukanlah perilaku anak yang tidak dapat diam, melainkan ada gejala-gejala gangguan perilaku seperti perasaan gelisah, selalu menggerak-gerakkan jari tangan, kaki, pensil, tidak dapat duduk tenang, dan selalu meninggalkan tempat duduknya meskipun dia seharusnya duduk dengan tenang, perasaan yang meletup-letup, aktivitas yang berlebihan, dan suka membuat keributan (Prasetyono, 2008: 101).   
Asperger, diambil dari seorang dokter berkebangsaan Austria, Hans Asperger (1944) yang menerbitkan sebuah makalah tentang pola perilaku anak laki-laki yang memiliki tingkat intelegensi dan perkembangan bahasa yang normal, tetapi memperlihatkan perilaku yang mirip autisme serta mengalami kekurangan dalam hubungan sosial dan kecakapan berkomunikasi serta mengalami kesulitan jika terjadi perubahan, dan selalu melakukan hal yang sama secara berulang-ulang. Penyandang asperger memiliki perasaan yang terlalu sensitif terhadap suara, rasa, penciuman, dan penglihatan, sehingga mereka lebih menyukai pakaian yang lembut, makanan tertentu, dan merasa terganggu dengan keributan atau penerangan lampu yang mana orang normal tidak dapat mendengar dan melihatnya (Prasetyono, 2008: 83-85).
Disleksia, anak yang memikiki syndrome ini juga termasuk anak berkebutuhan khusus karena anak seperti ini mengalami gangguan dalam hal membaca, mereka lebih senang membaca gambar atau simbol, mereka mengalami kesulitan di dalam membaca huruf, ada huruf yang hilang bagi anak-anak yang mengalami disleksia. Adapun ciri-ciri anak yang mengalami gangguan disleksia menurut James (2010:60) adalah sebagai berikut:

Bina diri anak berkebutuhan khusus merupakan salah satu indikator penting dari pembinaan karakter dasar anak brkebutuhan khusus.
Karakter merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain; watak dan tabiat (Kamisa, 1997:281).
Sedangkan Erie Sudewo mengatakan bahwa karakter merupakan kumpulan dari tingkah laku baik dari seorang anak manusia. Tingkah laku ini merupakan perwujudan dari kesadaran menjalankan peran, fungsi, dan tugasnya mengemban amanah dan tanggung jawab (2011:11).
Simak kembali apa yang dikatakan oleh Sudewo (2011:11), dalam pembentukan kualitas manusia, peran karakter tidak dapat disisihkan. Sesungguhnya karakter inilah yang menempatkan baik tidaknya seseorang. Posisi karakter bukan jadi pendamping kompetensi melainkan jadi dasar , ruh, atau jiwa orang tersebut. Tanpa karakter, ‘peningkatan diri’ dari kompetensi bisa liar, berjalan tanpa rambua dan aturan.
Sijabat (2011: 1,2) menyamakan antara karakter dan watak, beliau mengatakan bahwa watak adalah sifat, tabiat, atau kebiasaan dalam diri dan kehidupan manusia, yang sudah begitu tertanam dan berurat akar serta telah menjadi ciri khas diri kita sendiri (personalitis). Karena itu apakah dilihat orang lain atau tidak, kita akan memperlihatkan perangai itu (konsisten). Bila dilihat orang maupun tidak, misalnya kita selalu bertanggung jawab, rajin, bersih, teratur, sopan, ramah, sabar, ulet, dan kerja keras.
Sekarang kita melihat apakah perbedaan antara karakter dan temperamen. Pada dasarnya temperamen dan karakter memiliki perwujudan yang identik, sama-sama dapat dilihat melalui perilaku manusia sehari-hari. Untuk lebih jelasnya kita lihat pandangan Lahaye mengenai temperamen. Lahaye (2004:14) mengatakan bahwa temperamen adalah kombinasi pembawaan yang kita warisi dari orangtua kita. Tidak seorangpun tahu dimanakah temperamen itu berada, namun menurut Lahaye bahwa temperamen berada dalam pikiran atau pusat emosi (seringkali disebut hati). Dari pusat emosi itu digabungkan dengan ciri-ciri manusia lainnya, sehingga terciptalah sifat dasar lahiriah kita.
Sebagai contoh dari temperamen adalah sering kita melihat anak murid yang introvert dan ekstrovert. Ada murid yang lebih menyukai musik, sedangkan saudara kandungnya sama sekali tidak menyukai musik. Hal ini dapat terjadi dari orangtua kita, baik dari orangtua kandung, ataupun dari kakek atau nenek bahkan sapai buyut kita.
Melalui penjelasan di atas dapatlah disimpulkan bahwa temperamen diperoleh dari kombinasi pembawaan





Dari penjelasan di atas pendidikan merupakan unsur terpenting dalam pembentukan karakter manusia. Ada tokoh yang mengatakan bahwa anak kecil bagaikan kertas putih yang bersih (polos) dan dapat coret sesuai dengan orang yang mencoretnya, tetapi juga ada yang mengatakan bahwa anak kecil sudah seperti kertas yang tergores atau tergambarkan (seperti orangtuanya). Kedua pandangan di atas adalah sama-sama benar. Di dalam diri anak ada kepolosan yang dapat kita bentuk dan ada goresan (contoh: rasa egois yang berlebih) yang perlu diarahkan, sehingga anak tersebut dapat melihat dunia sekelilingnya (dapat bersosialisasi dengan baik).
Kalau kita melihat bahwa pendidikan merupakan pembentukan yang dilakukan oleh orang lain di luar diri individu yang bertujuan untuk membentuk dan atau merubah individu orang yang dididik baik dari sisi kognitif, afektif, maupun psikomotorik, sehingga terjadi perubahan ke arah yang lebih baik dalam diri individu tersebut.
Pendidikan dan karakter memiliki kaitan yang sangat erat, karena tanpa pendidikan tidaklah mungkin dihasilkan individu yang memiliki karakter positif. Karakter dapat terbentuk menjadi karakter yang positif karena ada pendidikan. Sebagai contoh yang sederhana orangtua selalu mengajarkan kepada anaknya mulai dari kecil bahwa kalau ketemua orang lain seperti guru harus mengucapkan salam, seperti “selamat pagi” dan mengucapkan terima kasih apabila menerima sesuatu dari oranglain. Itulah pendidikan karakter dasar bagi anak.
Pendidikan karakter yang sederhana yang dapat dilakukan oleh guru maupun orangtua adalah nilai-nilai keagamaan dan moral. Seseorang menjadi besar apabila moral dan nilai-nilai keagamaan tertanam dalam diri orang tersebut, apabila moral dan nilai-nilai keagamaan telah tertanam, maka orang tersebut dapat memberikan sumbangsih dalam hidupnya bagi bangsa dan negaranya.
Untuk anak berkebutuhan khusus pendidikan karakter dapat diberikan melalui pendidikan karakter sederhana seperti bina diri anak dalam menjalani kehidupan sehari-hari, misalnya, sopan santun dalam berucap kata, memakai pakaian, menerima dan memberi dengan tangan kanan, serta sosialisasi mereka dengan teman-teman atau lingkungan. Hal-hal seperti inilah yang semestinya diperhatikan dan diberikan kepada anak-anak berkebutuhan khusus, agar mereka dapat hidup dan menyesuaikan diri dengan lingkungan disekitar mereka.
Bina diri anak ini bukan hanya dilakukan satu sampai dengan lima kali saja melainkan terus diberikan secara berulang-ulang sampai anak berkebutuhan khusus tersebut dapat melaksanakan perilaku tersebut dengan sendirinya tanpa harus di awasi oleh guru ataupun orangtua. Dengan demikian mereka dapat menyadari siapa dirinya dan apa yang perlu dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga karakter dasar tersebut terbentuk dalam diri anak-anak berkebutuhan khusus.
Layanan seperti inilah yang perlu diperhatikan oleh para pembimbing di sekolah khususnya guru Bimbingan dan Konseling.
Layanan konseling individu merupakan sebuah layanan konseling yang diberikan secara langsung dengan berhadapan muka antara konselor dengan konseli individu per individu. Layanan ini diberikan dengan tujuan membantu konseli menemukan jalan keluar atau dari permasalahannya, sebelum konseli menemukan jalan keluar atas permasalahannya, konselor membantu konseli menemukan aspek-aspek penting dari permasalahannya atau hakikat dari permasalahan dengan membentuk konsep diri dari konseli.
Demikian pula layanan konseling individual dapat membantu anak berkebutuhan khusus menemukan kemampuan-kemampuan dalam diri mereka yang pada akhirnya terbentuklah bina diri dalam diri mereka. Bina diri anak berkebutuhan khusus bukan hanya dibimbing satu sampai dengan lima kali, melainkan perlu dilakukan terus menerus oleh pembimbing artinya layanan konseling individual ini perlu dilakukan terus menerus, sehingga bina diri anak berkebutuhan khusus ini semakin berkembang.
Tujuan dari layanan konseling individu bagi anak berkebutuhan khuus ini adalah pengembangan bina diri anak yang berakhir pada anak berkebutuhan khusus dapat hidup dalam lingkungan sosialnya.
Pelayanan Bimbingan dan Konseling bagi anak berkebutuhan khusus akan amat erat kaitannya dengan pengembangan kecakapan hidup sehari-hari (daily living activities) yang tidak akan terisolasi dari konteks. Oleh karena itu pelayanan bimbingan dan konseling bagi anak berkebutuhan khusus merupakan pelayanan intervensi tidak langsung yang akan lebih terfokus pada upaya mengembangkan lingkungan perkembangan (inreach-outreach) bagi kepentingan fasilitasi konseli, yang akan melibatkan banyak pihak di dalamnya (Sunaryo, dkk: 2007, 33).


BAB III
PENUTUP



Demikianlah makalah ini ditulis dengan tujuan untuk membuka wawasan bagi para guru Bimbingan dan Konseling di sekolah, agar tidak perlu ragu untuk membimbing anak berkebutuhan khusus yang ada di sekolah. Karena sudah selayaknya guru Bimbingan dan Konseling dapat memberikan layanan konseling individu bagi anak berkebutuhan khsuus, bukan hanya sampai di guru Bimbingan dan Konseling saja, sekolah pun ikut memiliki tanggung jawab dalam mendidik anak berkebutuhan khusus dengan memfasilitasi layanan konseling untuk melayani anak berkebutuhan khusus tersebut. Karena anak berkebutuhan khusus layak menerima pendidikan dan bimbingan layaknya anak normal, meskipun layanan yang diberikan adalah layanan khusus.
Hendaknya kita juga perlu menyadari bahwa anak-anak berkebutuhan khusus juga perlu pengembangan diri, hingga akhirnya mereka dapat menemukan kemampuan spesial dalam diri mereka yang sangat berguna untuk hidup dan masa depan mereka. Anak-anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak emas (Golden Kids) yang perlu kita kasihi dan sayangi.




KEPUSTAKAAN



Fanu, Le James. 2010. Atasi dan Deteksi Ragam Masalah Kejiwaan Anak Sejak Dini. Yogyakarta: Garailmu

Kartadinata, Sunaryo, dkk. 2008. Rambu-Rambu Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal. Jakarta: Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional

LaHaya, Tim. 2004. Temperamen dan Karunia Rohani. Jakarta: Metanoia

Prasetyono, D.S. 2008. Serba-serbi Anak Autis. Yogyakarta: Diva Press

Pratisti, Wiwien Dinar. 2008. Psikologi Anak Usia Dini. Jakarta: PT. Indeks

Sijabat, B.S. 2011. Membangun Pribadi Unggul Suatu Pendekatan Teologis
       terhadap Pendidikan Karakter. Yogyakarta: ANDI Offset

Sudewo, Ari. 2011. Best Practice Character Building Menuju Indonesia Lebih Baik.
       Jakarta: Republika

0 komentar:

Poskan Komentar