13 Sep 2012

PERANAN GURU PEMBIMBING (BK) DALAM MENGEMBANGKAN LIFE SKILLS PESERTA DIDIK SMK


Oleh: 
Hera Heru Sri Suryanti*)


Abstrac

The role Guidance and counseling teachers article in Life Skills Students develop vocational aspects include: 1) life skills vocational school students, 2) Task guidance counselor, 3) life skills development strategy, and 4) the role of the Guidance and counseling teacher.
The method of writing using literature and empirical studies. The objective is to motivate teachers frequently and guidance in their duties, especially in vocational environment.
Key words: life skills, teacher pembimbimbing, vocational learners

*) Dosen Prodi BK FKIP Universitas Slamet Riyadi Surakarta.


PENDAHULUAN
Pendidikan adalah media, aktivitas untuk mencerdaskan bangsa. Dalam prosesnya guru merupakan ujung tombak dalam peningkatan kualitas pendidikan sehingga semakin tinggi kualitas guru maka kualitas pendidikan diharapkan juga meningkat, dengan demikian idealnya mampu menjawab semua permasalahan yang dimiliki bangsa baik yang berupa material maupun sepiritual.
             Sejalan dengan hal di atas Azra (2002:xv)  mengidentifikasi persoalan pendidikan di Indonesia sebagai berikut. Pertama, kesempatan mendapatkan pendidikan masih tetap terbatas (limited capacity). Kedua, kebijakan pendidikan pendidikan nasional yang sangat sentralistik dan menekankan uniformitas (keseragaman) yang mengakibatkan beban kurikulum serba seragam dan overloaded; Ketiga, pendanaan yang masih belum memadai karena pemerintah belum menjadikan pendidikan sebagai prioritas utama dalam membangun Indonesia; Keempat, akuntabilitas yang berkaitan dengan pengembangan dan pemeliharaan system dan kualitas pendidikan yang masih timpang; Kelima, profesionalisme guru dan tenaga kependidikan yang masih belum memadai; Keenam, relevansi yang masih timpang dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja.
Agar pendidikan dapat berhasil sesuai dengan tujuan diperlukan berbagai sarana atau sumberdaya seperti bangunan sekolah, buku/materi pelajaran, guru dan sarana pendukung lainnya. Berkaitan dengan profesionalisme guru, khususnya guru pembimbing perlu dicermati lagi, apakah sudah optimal menjalankan tugasnya atau belum dalam mendampingi peserta didik mengatasi permasalahan yang dialami yang menyangkut  dimensi kemanusiaan mereka. Khususnya peserta didik di SMK yang harus mempersiapkan diri untuk bekerja di masyarakat membutukan life skills yang cukup, agar peserta didik tidak canggung melangkah dan berani menghadapi masalah. Untuk itu menuntut semangat kerja guru pembimbing dalam membantu peserta didik mengubah perilaku yang kurang baik menuju perilaku yang diharapkan di dunia pendidikan.
            Kenyataan di lapangan masih ditemukan rendahnya life skills lulusan SMK sehingga tidak memiliki daya saing di dunia kerja dan sulit mendapatkan kerja sesuai bidangnya. Life skills yang mencakup kecakapan personal, sosial, akademik, dan vokasional perlu diberikan dan dikembangkan pada diri peserta didik, apabila suatu lembaga pendidikan SMK tidak memperhatikan hal ini maka akan menjadi salah satu penyebab rendahnya kualitas pekerja dan bisa menambah deretan angka pengangguran.            Strategi yang mendekati tepat selain guru bidang studi maka guru pembimbing harus mampu mengambil peran untuk mengembangkan life skills peserta didik.
Berdasarkan uraian di atas maka perlu dibahas tentang Peranan Guru Pembimbing dalam Mengembangkan Life skills Peserta didik SMK.



PEMBAHASAN
            Dalam bagian ini akan dibahas secara berurutan tentang: 1) life skills peserta didik SMK, 2) tugas guru pembimbing, 3) strategi pengembangan life skills, 4) peranan guru pembimbing dalam mengembangkan life skills peserta didik.
Pengertian life skills atau kecakapan hidup telah dikembangkan oleh beberapa ahli. Salah satunya adalah Anwar (2004: 21) menjelaskan bahwa pada dasarnya kecakapan hidup membantu peserta didik dalam mengembangkan kemampuan belajar (learning how to learn), menhilangkan kebiasaan dan pola pikir yang tidak tepat (learning how to unlearn), menyadari dan mensyukuri potensi diri untuk dikembangkan dan diamalkan, berani menghadapi problema kehidupan dan memecahkan secara kreatif. Sejalan dengan pendapat tersebut Muhammad Ali (2007: 1265) mengemukakan kecakapan hidup adalah “kecakapan untuk melakukan adaptasi dan perilaku positif yang memungkinkan individu untuk melakukan reaksi secara efektif dalam menghadapi kebutuhan dan tantangan sehari-hari”.
Istilah kecakapan hidup, menurut WHO (World Health Organisation) merupakan salah satu istilah yang sangat terbuka untuk diinterpretasikan. Para partisipan dalam sebuah forum yang diselenggarakan oleh WHO menyepakati bahwa kecakapan hidup merujuk pada kecakapan psikososial. Kata kunci untuk mendiskripsikan kecakapan psikososial meliputi kecakapan personal, sosial, interpersonal, kognitif, afektif dan universal. Sedangkan Undang-Undang No 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 21 ayat (3) menyebutkan Pendidikan kecakapan hidup adalah pendidikan yang memberikan kecakapan personal, kecakapan sosial, kecakapan intelektual, dan kecakapan vokasional untuk bekerja atau usaha mandiri.
Pengertian tersebut di atas memberikan gambaran bahwa kecakapan hidup memiliki makna yang luas karena dikaitkan dengan permasalahan hidup dan kehidupan. Permasalahan hidup dan kehidupan bukan hanya mencakup permasalah vokasional saja. Kecakapan hidup yang dikutip dalam ICAP.org (2007: 1) mendefinisikan life skills “as abilities for adaptive and positive behavior that anable individuals to deal effectively with the demans and challenges of everyday life”. Life skills diartikan sebagai kemampuan untuk beradaptasi dan perilaku positif yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi segala tuntutan dan tantangan dalam hidupnya.. Lebih jauh Peace Corp (2001: 9) mengemukakan bahwa “The life skills program is a comprehensive behavior change approach that concentrates on the development of the skills needed for life such as communication, decision making, thinking, managing emotions, assertiveness, self esteem building, resisting peer pressure, and relationship skills”.
Kecakapan hidup memiliki cakupan yang sangat luas karena meliputi berbagai kecakapan, seperti kecakapan komunikasi, pengambilan keputusan berpikir, mengelola emosi, bersikap asertif, membangun kepercayaan diri, dan kecakapan membangun relasi.
Berdasarkan analisis terhadap pengertian  tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa kecakapan hidup merupakan suatu nilai yang perlu dimiliki oleh peserta didik SMK melalui pembelajaran baik yang bersifat teoritis maupun praktis.
Guru pembimbing dalam menjalankan tugas sebagai pendidik, motivator, dinamisator, dan innovator untuk menghantarkan anak mencapai pribadi dewasa dan mandiri. Tugas tersebut harus dijalankan sesuai dengan prinsip-prinsip bimbingan dan konseling. Sejalan dengan itu Nana Syaodih Sukmadinata (2007:29) mengemukakan prinsip-prinsip bimbingan konseling antara lain sebagai berikut: membantu peserta didik mengembangkan kemampuannya setinggi-tingginya untuk kepentingan dirinya dan kepentingan masyarakat; diberikan dengan berpusat kepada peserta didik; melayani semua kebutuhan peserta didik secara meluas; proses bimbingan dilaksanakan secara demokratis dan diarahkan agar peserta didik memiliki kemampuan untuk mencari keputusan akhir; peserta didik dibantu untuk mengembangkan kemampuan membimbing diri sendiri; faktor-faktor lingkungan siswa, baik lingkungan rumah sekolah maupun masyarakat hendaknya diperhatikan dalam membimbing siswa; konseling hendaknya menggunakan teknik bimbingan dan konseling yang bervariasi; membutuhkan kerjasama yang erat dengan seluruh staf sekolah orang tua, maupun lembaga-lembaga masyarakat.
          Apabila menjalankan tugas sudah sesuai dengan prinsip-prinsipnya dan memperhatikan kedisiplinan kerja maka akan lancar mencapai tujuan. Peserta didik SMK yang mayoritas memiliki karakter berbeda dengan anak SMA, membutuhkan penanganan lebih serius sehingga menjadi tantangan bagi para guru pembimbing di dalam menjalankan tugas. Khususnya dalam pengembangan life skills yang mencakup kecakapan pribadi, sosial, akademik, dan vokasional, dibutuhkan suatu strategi yang tepat.
Life skills atau Kecakapan hidup sering kali dikaitkan dengan penguasaan berbagai kompetensi sebagai bekal peserta didik untuk hidup di masyarakat. Kompetensi sebenarnya memiliki arti yang sangat luas karena mencakup semua kecakapan, kebiasaan, keterampilan yang diperlukan seseorang dalam kehidupannya, baik sebagai pribadi, warga masyarakat, peserta didik maupun karyawan. Kompetensi memiliki makna yang hampir sama dengan kecakapan hidup, yaitu kecakapan-kecakapan, ketrampilan untuk menyatakan, memelihara, menjaga, dan mengembangkan diri (Nana Syaodih Sukmadinata, 2004: 26).
Pengenalan life skills terhadap peserta didik bukanlah untuk mengganti kurikulum yang ada, akan tetapi untuk melakukan reorientasi kurikulum yang ada sekarang agar benar-benar merefleksikan nilai-nilai kehidupan nyata. Pendidikan life skills merupakan upaya untuk menjembatani kesenjangan antara kurikulum/program pembelajaran dengan kebutuhan masyarakat, dan bukan untuk mengubah total kurikulum yang telah ada (Anwar, 2004: 32).
Dian Sukmara menekankan hal essensial penyelenggaraan pembelajaran berorientasi life skills memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar sepenuh hati dengan berorientasikan pada: learning to know, learning to do, learning to be, learning to live together dan learning to cooperative (Dian Sukmara, 2005: 28). Susilana (2006: 75) menyampaikan bahwa pendidikan yang berorientasi pada kecakapan hidup merupakan bagian dalam pengembangan kurikulum terpadu karena pengembangan kecakapan hidup seharusnya tidak berdiri sendiri, tetapi terintegrasi dengan disiplin ilmu atau mata pelajaran yang lain. Supaya tidak menjadi dangkal, substansi pengembangan kecakapan hidup harus terpadu dengan beberapa mata pelajaran yang sesuai dengan struktur kurikulum. Jadi substansi pengembangan kecakapan hidup bukan sekedar pendidikan ketrampilan atau vokasional dasar yang terpisah-pisah.  
Keberadaan kecakapan hidup di SMK tidak memiliki kurikulum tersendiri karena tidak berdiri sendiri sebagai mata pelajaran maka pengembangannya harus dilakukan melalui pengintegrasian dengan meta pelajaran atau meta diklat yang ada dan melalui kegiatan-kegiatan ekstra kulikuler.
Sebagaimana disebutkan di atas bahwa guru pembimbing memiliki tugas menghantarkan peserta didik untuk mencapai pribadi mandiri, hal ini sarat dengan pengembangan kecakapan hidup yang mencakup kecakapan pribadi, social, akademik, dan vokasional.
Menurut Prayitno (1999 : 85) bimbingan individu adalah : Pelayanan bimbingan yang memungkinkan peserta didik (klien) mendapatkan layanan langsung tatap  muka (secara perorangan) dengan guru pembimbing dalam rangka pembahasan dan pengentasan permasalahan pribadi yang dideritanya.
Tujuan umum atau tujuan akhir bimbingan individu adalah agar siswa dapat mengembangkan kemampuannya sesuai dengan potensi yang ada. Dengan bimbingan inidvidu memungkinkan peserta didik mendapatkan layanan langsung secara tatap muka dengan guru pembimbing Fungsi umum bimbingan yang didukung oleh pelayanan bimbingan perorangan ialah fungsi pengentasan.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa bimbingan individual adalah bimbingan yang dilakukan oleh pembimbing secara individual atau tatap muka secara langsung untuk membantu peserta didik mengentaskan masalahnya.
            Menurut Bimo Walgito (2005 : 127) bimbingan kelompok adalah bantuan diberikan dengan pendekatan kelompok karena pokok masalah serta tujuan dari semua siswa itu sama. Bimbingan kelompok sebenarnya merupakan satu teknik bimbingan yang pelaksanaannya secara kelompok, usaha ini juga bermaksud untuk membantu anak dalam situasi kelompok atau secara kebetulan masalah-masalah yang dihadapi itu tepat sekali kalau penyelesaiannya secara kelompok belajar, masalah hubungan sosial, hubungan pekerjaan dan sebagainya.
Menurut Abu Ahmadi  (2004 : 119) bimbingan kelompok dapat dilakukan dalam bentuk : home room, field drip, group discussion, kegiatan kelompok, organisasi murid, sosiodrama, upacara, dan papan bimbingan..
Menurut Achmad Juntika Nurihsan & Akur Sudianto (2005 : 12) bimbingan belajar adalah membantu peserta didik dalam menghadapi dan memecahkan masalah-maalah belajar. Melalui bimbingan belajar guru pembimbing memberi bantuan kepada peserta didik dengan cara mengembangkan suasana belajar mengajar yang kondusif, agar dapat mengatasi kesulitan belajar dan dapat mengembangkan cara belajar yang efektif sehigga mencapai hasil belajar yang optimal atau membantu peserta didik sukses dalam belajar dan mampu menyesuaikan diri terhadap semua tuntutan di sekolah. Dalam bimbingan belajar, para guru pembimbing berupaya untuk memfasilitasi peserta didik dalam mencapai tujuan belajar yang diharapkan.
Sedang menurut Prayitno (1999 : 279) layanan bimbingan belajar ini dimaksudkan untuk : Mengatasi masalah yang berhubungan dengan kegiatan belajar di sekolah atau di luar sekolah. Bimbingan ini meliputi tentang cara belajar siswa, kedisiplinan waktu, efisiensi buku pelajaran, proses mengikuti pelajaran dan cara mengatasi kesulitan pada pelajaran tertentu.
Dari pengertian di atas mengandung arti bahwa dalam layanan bimbingan belajar kita membantu para siswa agar dapat belajar sebaik mungkin dengan kemampuan yang dimilikinya.
 Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2002 : 20) jenis layanan bimbingan belajar dapat dibedakan menjadi dua yakni layanan bimbingan belajar non psikologis dan layanan bimbingan belajar psikologis.
Di dalam memasuki proses belajar dan situasi, supaya anak dapat belajar dengan baik, kebutuhan yang diperlukan dalam belajar harus dipenuhi. Kebutuhan-kebutuhan dalam bimbingan belajar menurut Abu Ahmadi (2004 : 112) adalah :
(a)  Memiliki kondisi fisik yang tetap sehat
(b) Memiliki   jadwal   belajar   di rumah,    yang    disusun   dengan   baik dan  
      teratur.
(c) Memiliki disiplin terhadap  diri  sendiri,   patuh  dan taat  dengan   rencana
      belajar yang telah dijadwalkan.
(d)Memiliki   kamar/tempat   belajar   yang   sesuai  dengan  seleranya sendiri
      dan mendorong kegiatan belajarnya.
(e)Menyiapkan peralatan sekolah dengan baik sebelum belajar
     kesehatan mata.
Berdasarkan uraian tersebut jelaslah kiranya bahwa untuk dapat memberikan bantuan pelayanan bimbingan terhadap murid-murid dengan sebaik-baiknya, pembimbing, guru kelas dan kepala sekolah perlu memahami murid-muridnya secara individual maupun kelompok.
d).Peranan guru pembimbing dalam mengembangkan kecakapan vokasional dilakukan melalui pemberian bimbingan karir.
Menurut W.S.Winkel (2005:114) bimbingan karir adalah:
Bimbingan dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja, dalam memilih lapangan kerja atau jabatan/profesi tertentu serta membekali diri supaya siap memangku jabatan tertentu dari lapangan pekerjaan yang dimasuki. Bimbingan karir juga dapat dipakai sebagai sarana pemenuhan kebutuhan perkembangan peserta didik yang harus dilihat sebagai bagian integral dari program pendidikan yang diintegrasikan dalam setiap pengalaman belajar bidang studi.

Secara umum tujuan diselenggarakannya bimbingan karier di sekolah ialah membantu siswa dalam pemahaman dirinya dan lingkungannya, dalam pengambilan keputusan, perencanaan, dan pengarahan kegiatan-kegiatan yang menuju pada karier dan cara hidup yang akan memberikan rasa kepuasan karena sesuai, serasi, dan seimbang dengan dirinya dan lingkungannya(Dewa Ketut Sukardi, 2004: 34)
          Penyelenggaraan bimbingan karier disekolah dapat dilakukan melalui beberapa metode yaitu ceramah dan nara sumber, diskusi kelompok, pengajaran unit, sosiodrama, karyawisata, kegiatan intrakulikuler dan ekstrakulikuler.

PENUTUP
Guru Pembimbing dalam mengembangkan life skills peserta didik harus lebih dahulu dimulai dengan menciptakan sikap simpati di muka peserta didik, memiliki kemampuan menggerakkan energi untuk belajar secara kontinu, kemudian mengarahkan peserta didik untuk dapat melakukan kegiatan yang bermanfaat dengan kesungguhan hati, mengarahkan agar peserta didik untuk tidak membiarkan waktu luang/memanfaatkan waktu luang dan patuh terhadap rambu-rambu yang diberikan guru dalam belajar. Melalui semua itu maka pengembangan life skills peserta didik akan berjalan lancar mencapai tujuan


DAFTAR RUJUKAN

Abu Ahmadi. 2004. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.


Achmad Juntika Nurihsan & Akur Sudianto. 2005. Manajemen Bimbingan & Konseling di SMP Kurikulum 2004. Jakarta : Grasindo.

Ali,  Muhommad, 2007. Pendidikan  Kecakapan  Hidup.  Dalam   Ali,   M.,  Ibrahim,
R., Sukmadinata, N.S., dan Rasjidin, W. (Penyunting), Ilmu dan Aplikasi Pendidikan Handbook. Bandung: Fip.UPI. Press.

Anwar, 2004.  Pendidikan   Kecakapan Hidup   (Life Skills Education).   Bandung: Al
            Fabeta
Azra,  Azyumardi,   2002.   Paradigma   baru   Pendidikan   Nasional.   Rekonstruksi
dan Demokratisasi. Jakarta: Kompas.

Badan   Pusat   Statistik,  2010.  Berita  Resmi  Statistik .No. 33/05/Th. 6 XIII, 10 Mei
2010.

Bimo Walgito. 2005. Bimbingan dan Konseling (Studi & Karir). Yogyakarta : Andi  
            Yogyakarta

Corps,  Peace, 2001.  Life  Skills   Manual.  Washington:  Information  Collection and
            Exchange.

Dewa  Ketut  Sukardi,   2004.   Bimbingan Karier di Sekola-Sekolah,    Jakarta: Balai
Pustaka.

ICAP. 2007.   Life    Skills.     (On   Line )      Tersedia pada:    http//: www.  icap.   org  
(portals/o/download/all.pdf/bluebook/modularoz. Life skills. Pdf (18 Maret 2007).

Prayitno  &  Erman  Amti. 1999.  Dasar-dasar   Bimbingan dan  Konseling. Jakarta :
Rineka Cipta

Syaiful Bahri Djamarah. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta : Rineka Cipta.

Sukmadinata.     N.      Syaodih.  2004.   Kurikulum   &    Pembelajaran   Kompetensi.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Susilana,   Rudi.    2006. Kurikulum dan Pembelajaran.  Bandung:  Tim Pengembang
MKDK FIP_UPI.

Sukmara     Dian.   2005.   Implementasi    Program   Life  Skills.   Bandung:  Mughni 
Sejahtera

Undang - Undang      RI       Nomor. 20   Tahun 2003.    Sitem   Pendidikan  Nasional
(Sisdiknas). Yogya: Pustaka Widyatama





2 comments:

  1. memang peranan pendidik konseling sangat penting dalam membentuk karakter siswa

    ReplyDelete
  2. entah mengapa jadi inget guru BK semasa SMA saya

    ReplyDelete

Search

Form Pengajuan Judul Skripsi

Agenda

Agenda

Informasi Akademik Terbaru

Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling

Hari: Sabtu, 6 Agustus 2016
Pembicara :
1. Drs. Nasruddin (Dirjen PAUD Dikmas)
2. Dr. Muh Farozin, M.Pd (Ketua Program Studi BK Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta)
3. Dr. Santoso, M.Pd. (Koordinator CYLIN UMK dan Sekretaris Program Pascasarjana S2 Pendidikan Dasar Universitas Muria Kudus)

Artikel Terpopuler

Arsip Berita

Powered by Blogger.

Download

Materi Kuliah Perdana (5 Maret 2014) Oleh: Dr. Adi Atmoko, M.Si