13 Sep 2012

PENGEMBANGAN KONSEP DIRI MELALUI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAMI

Oleh:
Gudnanto, S.Pd, Kons.
Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan
Universitas Muria Kudus
ABSTRAK : Didalam Al-Quran disebutkan, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya; sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya (Q.S.91:7-10). Jadi manusia diberi pengetahuan tentang hal-hal yang positif dan negatif. Selanjutnya manusia mempunyai kebebasan untuk memilih jalan mana yang akan dia tempuh. Manusia punya potensi untuk menjadi jahat, sebagaimana ia juga punya potensi untuk menjadi baik.
Agama (Islam) datang untuk mempertegas konsep diri yang positif bagi umat manusia. Manusia adalah makhluk yang termulia dari segala ciptaan Tuhan (Q.S.17:70). Karena itu, ia diberi amanah untuk memimpin dunia ini (Q.S.2:30). Walaupun demikian, manusia dapat pula jatuh kederjat yang paling rendah, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh (Q.S.95:6). Keimanan akan membimbing kita untuk membentuk konsep diri yang positif, dan konsep diri yang positif akan melahirkan perilaku yang positif pula, yang dalam bahasa agama disebut amal sholeh. Tidak sedikit ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Quran yang menyebut kata iman dan diiringi oleh kata amal (allazina amanu wa amilus-sholihat), ini bukan saja menunjukkan eratnya hubungan diantara keduanya, tetapi juga menunjukkan betapa pentingnya iman dan amal tersebut, sehingga nilai seseorang ditentukan oleh iman dan amalnya juga. Sesungguhnya Allah Taala tidak akan melihat kepada bentuk (rupa) kamu, tidak pula keturunan (bangsa) kamu, tidak juga harta kamu; tetapi , ia melihat kepada hati kamu dan amal perbuatan kamu. (H.R.At-Thabrani). Semua manusia adalah sama disisi Allah, yang lebih mulia hanyalah orang yang paling bertakwa (Q.S.49:13).
Memang diakui adanya kemungkinan seseorang akan dapat dipengaruhi oleh lingkungan teman sepergaulannya sebagai reference group (Q.S.2:14; 17:73; 37:51-53; 41:25; 43:67) dan bujuk rayu syaithon (Q.S.4:38; 6:43; 8:48; 25:28-29; 27:24), tetapi semua itu tidak akan berbekas jika seseorang memiliki keimanan yang tangguh (Q.S.5:105; 17:65). Itulah sebabnya Rasulullah saw. menghabiskan masa 13 tahun di Mekah untuk menanamkan keimanan kepada para pengikutnya.
Dengan demikian Bimbingan dan Konseling Islami dapat dijadilkan alternatif untuk memahami konsep diri individu secara menyeluruh. Karena rujukan konsep diri dalam islam adalah Al Qur’an dan sunnah.
Kata Kunci: Konseling islami; konsep diri.

Konsep diri merupakan bagian  penting dari kepribadian seseorang, yaitu sebagai penentu bagaimana seseorang bersikap dan bertingkah laku. Dengan kata lain jika seseorang  memandang dirinya tidak mampu, tidak berdaya dan dalam hal-hal negatif lainnya, ini akan mempengaruhi seseorang dalam berusaha. Hal itu juga berlaku sebaliknya jika seseorang merasa dirinya baik, bersahabat maka perilaku yang di tunjukkan itu juga akan menunjukkan sifat itu. .
Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian yang diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan dengan orang lain. Konsep diri adalah operating system komputer mental kita. Konsep diri menentukan kinerja kita. Level konsep diri menentukan level prestasi hidup.
Segala yang di ketahui tentang diri, semua apa yang  dipercayai, dan apa yang telah terjadi dalam hidup terekam dalam mental hard-drive kepribadian individu, yaitu di dalam self-concept kita. Self-concept kita mendahului dan memprediksi tingkat performa dan efektivitas setiap tindakan. Tingkah laku nyata akan selalu konsisten dengan self-concept yang terdapat di dalam diri. Oleh karena itu, perbaikan di segala bidang kehidupan harus dimulai dari perbaikan di dalam self-concept.
Brian Tracy(2005:48) menyatakan, self-concept memiliki tiga bagian utama yaitu: (1) Self-Ideal (Diri Ideal), (2) Self-Image (Citra Diri), dan (3) Self-Esteem (Harga Diri). Ketiga elemen tersebut merupakan satu kesatuan yang membentuk kepribadian. Menentukan apa yang biasa dipikir,dirasakan, dan dilakukan, serta akan menentukan segala sesuatu yang terjadi kepada dirinya sendiri. Self-ideal adalah komponen pertama dari self-concept. Self-ideal terdiri atas  harapan, impian, visi dan idaman. Self-ideal terbentuk atas kebaikan, nilai-nilai, dan sifat-sifat yang paling dikagumi dari diri kita maupun dari orang lain yang kita hormati. Self-ideal adalah sosok seperti apa yang paling diinginkan untuk bisa menjadi dirinya sendiri, di segala bidang kehidupan. Bentuk ideal ini akan menuntun kita dalam membentuk perilaku. Bagian kedua self-concept adalah self-image. Bagian ini menunjukkan bagaimana individu membayangkan diri sendiri, dan menentukan bagaimana akan bertingkah laku dalam satu situasi tertentu. Karena kekuatan self-image, semua perbaikan dalam hidup akan dimulai dari perbaikan dalam self-image.Self-esteem adalah seberapa besar individu menyukai diri sendiri. Semakin individu  menyukai diri sendiri, semakin baik individu akan bertindak dalam bidang apa pun yang ditekuni dan semakin baik performansinya . Bagian ini adalah komponen emosional dalam kepribadian. Komponen-komponen pentingnya adalah bagaimana individu berpikir, bagaimana  merasa dan bagaimana individu bertingkah laku.
Agar individu mempunyai konsep diri yang positif  maka perlu adanya bimbingan yang tepat. Salah satu alternatifnya adalah dengan Bimbingan dan  konseling islami untuk peningkatan konsep diri. Alasan menggunakan bimbingan dan konseling islami adalah bahwa bimbingan dan konseling islami berdasarkan wahyu Allah yang berupa Al-Qur’an dan sunnah Rosul.
Al-Qur’an sebuah kitab agama yang diturunkan oleh Allah SWT untuk seluruh umat manusia yang ada dalam alam ini, merupakan sebuah kitab yang bersifat sumber hukum bagi setiap Mu’min dan Muslim, yang dengan Mu’min dan Muslim hendak hidup dan mati. Dengan Al-Qur’an setiap muslim dapat mencapai hidup yang sempurna di dunia untuk bekal akhirat kelak. Dan dengan Al-Qur’an pula setiap muslim menentukan jalan hidupnya yang berlainan dari yang lain, demi untuk keridloan Allah SWT. Jalan dan cara untuk mencapai mardlotillah tersebut, serta perinciannya, telah ditunjukkan, diterangkan dan dijelaskan oleh pembawa Al-Qur’an, yaitu Nabi Muhammad SAW. Penjelasan dan penerangan nabi Muhammad SAW itu, ada kalanya digambarkan dalam perbuatan beliau, ada kalanya diutarakan dalam sabda-sabdanya dan terkadang berbentuk pengakuan beliau terhadap sahabat-sahabatnya. Semua ini, diistilahkan dengan hadits atau sunnah Nabi Muhammad SAW.
Di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah konsep diri yang positif       merupakan bentuk perilaku husnuzan terhadap diri sendiri, sesama manusia dan Sang Pencipta (Allah). Sedangkan konsep diri yang negatif merupakan bentuk perilaku su-uzhon terhadap diri sendiri, sesama manusia dan Sang Pencipta (Allah). Dalam penelitian ini harapannya dapat mengembangkan konsep diri yang positif melalui bimbingan dan konseling Islami sehingga para siswa mempunyai perilaku (akhlak) yang mulia sesuai dengan syariat agama Islam.

Bimbingan dan Konseling islami adalah bimbingan yang berdasarkan wahyu Allah yang berupa Al-Qur’an dan sunnah Rosul (Dahlan, 2005:628). Al-Qur’an sebuah kitab agama yang diturunkan oleh Allah SWT untuk seluruh umat manusia yang ada dalam alam ini, merupakan sebuah kitab yang bersifat sumber hukum bagi setiap Mu’min dan Muslim, yang dengan Mu’min dan Muslim hendak hidup dan mati. Dengan Al-Qur’an setiap muslim dapat mencapai hidup yang sempurna di dunia untuk bekal akhirat kelak. Dan dengan Al-Qur’an pula setiap muslim menentukan jalan hidupnya yang berlainan dari yang lain, demi untuk keridloan Allah SWT. Jalan dan cara untuk mencapai mardlotillah tersebut, serta perinciannya, telah ditunjukkan, diterangkan dan dijelaskan oleh pembawa Al-Qur’an, yaitu Nabi Muhammad SAW. Penjelasan dan penerangan nabi Muhammad SAW itu, ada kalanya digambarkan dalam perbuatan beliau, ada kalanya diutarakan dalam sabda-sabdanya dan terkadang berbentuk pengakuan beliau terhadap sahabat-sahabatnya. Semua ini, diistilahkan dengan hadits atau sunnah Nabi Muhammad SAW.
Menurut Brian Tracy (2005:48), self-concept memiliki tiga bagian utama yaitu: (1) Self-Ideal (Diri Ideal), (2) Self-Image (Citra Diri), dan (3) Self-Esteem (Harga Diri). Ketiga elemen tersebut merupakan satu kesatuan yang membentuk kepribadian. Menentukan apa yang biasa kita pikir, rasakan, dan lakukan, serta akan menentukan segala sesuatu yang terjadi kepada diri individu. Self-ideal adalah komponen pertama dari self-concept. Self-ideal terdiri dari harapan, impian, visi dan idaman. Self-ideal terbentuk dari kebaikan, nilai-nilai, dan sifat-sifat yang paling dikagumi dari diri kita maupun dari orang lain yang kita hormati. Self-ideal adalah sosok seperti apa yang paling kita inginkan untuk bisa menjadi diri kita, di segala bidang kehidupan. Bentuk ideal ini akan menuntun kita dalam membentuk perilaku.
Bagian kedua self-concept adalah self-image. Bagian ini menunjukkan bagaimana kita membayangkan diri sendiri, dan menentukan bagaimana akan bertingkah laku dalam satu situasi tertentu. Karena kekuatan self-image, semua perbaikan dalam hidup akan dimulai dari perbaikan dalam self-image.
Self-esteem adalah seberapa besar kita menyukai diri sendiri. Semakin kita menyukai diri sendiri, semakin baik kita akan bertindak dalam bidang apa pun yang kita tekuni dan semakin baik performansi kita. Bagian ini adalah komponen emosional dalam kepribadian kita. Komponen-komponen pentingnya adalah bagaimana kita berpikir, bagaimana kita merasa dan bagaimana kita bertingkah laku.
Dalam bimbingan dan konseling islami, individu diarahkan untuk berfikir positif (khusnudzon) yaitu berbaik sangka, individu yang memiliki sikap khusnudzon akan mempertimbangkan sesuatu dengan pikiran jernih. Pikiran dan hatinya bersih dari prasangka yang belum tentu terbukti kebenarannya.
Allah Azza Wajalla telah berfirman dalam hadits qudsi “Kami selalu mengikuti prasangka hambaku, dan aku menyertainya di mana saja ia ingat kepada-Ku” (H.R. Bukhari Muslim). Hal ini berarti selaras dengan komponen self-image yang berupa bagaimana individu merasa atau berprasangka terhadap diri sendiri (Mu’ti dkk., 2008:53).
Komponen self-image selanjutnya adalah bagaiman individu bertingkah laku. Dalam bimbingan konseling islami, individu dalam bertingkah laku diatur dengan aturan-aturan yang berupa ayat-ayat Al-Quran dan Sunnah. “Bertaqwalah kepada Allah, dan perbaikilah hubungan antar sesamamu, serta taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman” (Q.S. Al-Anfaal, 1).
Konsep diri (self comcept) adalah pandangan diri individu tentang dirinya sendiri, yang meliputi pengetahuan tentang diri, penghargaan tentang diri dan penilaian tentang diri. (Calhoun, J.F. 2002: 67).
Pengetahuan tentang diri adalah sesuatu yang individu ketahui tentang diri sendiri diperoleh dengan cara menempatkan diri dalam suatu kelompok, mengidentifikasi diri, dan membandingkan diri dengan anggota kelompok.
Harapan tentang diri merupakan suatu cita – cita yang ingin dicapai pada waktu yang akan dating. Harapan diri dapat membangkitkan kekuatan yang mendorong individu mencapai cita – cita. Setelah cita – cita tercapai, pada diri individu akan mempunyai cita – cita yang lain lagi sehingga harapan tentang diri akan terus berkembang.
Penilaian tentang diri adalah sejauh mana individu menyukai diri sendiri. Hasil penilaian diri disebut sebagai harga diri. Semakin besar ketidaksesuaian antara pengetahuan dan harapan semakin rendah harda diri seseorang (Rogers 1959, Higgins dkk 1985, dalam Calhoun, J.F. 2002:71).
Konsep diri adalah refleksi apa yang individu pandang dalam diri individu itu sendiri (Patton. 2002: 118). Konsep diri merupakan organisasi yang stabil dan berkarakter yang disusun dari persepsi – persepsi yang tampaknya bagi individu yang bersangkutan sebagai hal yang mendasar.
Pada bagian lain Rogers mendefinisikan konsep diri sebagai berikut: konsep gestalt yang terorganisasikan dan konsisten yang disusun bagi karakteristik “I” atau “Me” dan persepsi – persepsi hubungan dari “I” atau “Me” terhadap orang lain dan terhadap bermacam – macam aspek kehidupan bersama – sama dengan nilai yang diletakkan pada persepsi tersebut. (Burns. 1993:47)
Dari pendapat tersebut maka konsep diri dapat disimpulkan bahwa pandangan individu terhadap diri sendiri, yang sangat konsisten dan mendasar sebagai dasar pijakan individu untuk berinteraksi dengan orang lain. Jika konsep diri kurang baik menurut individu itu sendiri atau kurang percaya diri, maka bisa menjadikan individu kurang mampu menguasai diri dalam pergaulan. Begitu juga sebaliknya apabila individu merasa percaya dengan potensi yang dimilikinya, maka dalam pergaulan seseorang akan diterima.
Konsep diri dapat diartikan persepsi (pandangan) penilaian dan perasaan seseorang terhadap dirinya (self) baiak yang menyangkut aspek fisik, psikis maupun social. Contohnya seseorang yang menggambarkan konsep dirinya seperti “wajah saya jelek” (persepsi tentang fisik), “saya pintar” (persepsi tentang psikis), “teman – teman saya menyayangi saya” (persepsi social). Contoh tersebut merupakan konsep diri yang sifatnya kognisi (pengetahuan atau persepsi). Konsep diri yang sifatnya kognisi ini akan menjadi masalah bagi seseorang apabila dia memepunyai perasaan (sifat afeksi dari konsep diri) bersifat negatif. Konsep diri akan berpengaruh pada perilaku atau kepribadian seseorang. Konsep diri yang negative berpengaruh kurang baik terhadap perilaku dan kepribadiannya, sedangkan yang positif juga berpengaruh baik terhadap perilaku dan kepribadiannya (Yusuf. 2002: 17).



Merasa setara dengan orang lain. Perbedaan individu satu dengan yang launya bukanlah harta kekayaan dan bentuk fisik akan tetapi adalah ketaqwaan terhadap Allah. Sesungguhnya Allah Taala tidak akan melihat kepada bentuk (rupa) kamu, tidak pula keturunan (bangsa) kamu, tidak juga harta kamu; tetapi , ia melihat kepada hati kamu dan amal perbuatan kamu. (H.R.At-Thabrani). Semua manusia adalah sama disisi Allah, yang lebih mulia hanyalah orang yang paling bertakwa (Q.S.49:13).



          Tiada kenikmatan terbesar dalam hidup ini kecuali kita tercelup dan mencelupkan diri dalam Islam. Islamlah yang mengantarkan kita meraih kebahagiaan hakiki. Dengan Islam, kita memperoleh kemuliaan dan keselamatan dunia akhirat.
          Untuk mempertahankan kenikmatan Islam ini, butuh perjuangan yang amat besar untuk tetap istiqamah berpegang teguh pada nilai-nilai kebenaran Islam. Dalam Alquran surat Asy-Syams (91) ayat 8-9 ditegaskan bahwa jiwa kita diilhami dua jalan, yakni jalan kefasikan dan jalan ketakwaan. ''Maka, Kami ilhamkan jalan kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri.''
         Manusia diciptakan dari unsur tanah dan ditiupkan ruh. Jika jiwa kita didominasi unsur tanah yang merupakan representasi kerendahan, maka jiwa kita berkecenderungan melakukan perbuatan hina. Sebaliknya, jika kekuatan ruh lebih mendominasi jiwa, maka kita pun akan cenderung pada kebaikan. Tarik-menarik antara keburukan dan kebaikan ini akan terus-menerus berlangsung dalam kehidupan kita di muka bumi.
          Individu  juga menghadapi tantangan lain, yakni strategi Iblis yang tiada henti menyesatkan kita. ''Iblis berkata, 'Ya Tuhanku, oleh karena Engkau telah memutuskan kesesatan padaku, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka seluruhnya'.'' (QS Al-Hijr (15: 39).  Maksud dari kondisi ini tak lain adalah untuk menguji kualitas keimanan agar Allah SWT mengetahui mana di antara kita yang benar imannya dan tidak.
           Adapun perjuangan mempertahankan keimanan dan keislaman ini membutuhkan konsep diri yang jelas. Kita diciptakan di atas dunia ini bukanlah merupakan kesia-siaan, namun memiliki tujuan. Pertama, untuk beribadah dan memurnikan ketaatan kepada-Nya (QS Adz-Dzariyat (51: 56). Kedua, untuk memakmurkan muka bumi sesuai ketentuan dan petunjuk-Nya (QS Al-Baqarah (2: 30).
            Konsep diri yang jelas juga menuntut kesadaran kita terhadap hakikat kemanusiaan. Pertama, manusia itu diciptakan di atas fitrah (QS Ar-Rum (30: 30). Kedua, pada dasarnya manusia itu diciptakan lemah (QS An-Nisa' (4: 28).  Ketiga, manusia itu bodoh dan senantiasa menzalimi dirinya (QS Al-Ahzab (33: 72). Keempat, manusia itu fakir dan tidak memiliki apa-apa (QS Fathir (35: 15).  Kesadaran terhadap hakikat kemanusiaan dan tujuan penciptaan ini menjadikan kita senantiasa terbingkai pada ketentuan Islam. Konsep diri yang menggariskan pemahaman kita sebagai makhluk ciptaan Allah SWT yang memiliki tujuan penciptaan dan kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.



Al-Quran dan Terjemahnya, (2005), Departemen Agama R. I., Jakarta.
Agustian, Ariginanjar, (2001), Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosional dan Spiritual (ESQ) Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, Jakarta: Arga
____________, (2003), ESQ Power, Rahasia Sukses Membangkitkan Sebuah Inner Journey Melalui Al Ikhsan, Jakarta: Arga
Arikunto, Suharsimi, (2002), Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Azwar, Syaifudin, (2005), Skala Psikologis, Jakarta: Gramedia
Burn, R. B., (1993), Konsep Diri: Teori, Pengukuran, Perkembangan dan Perilaku, Arcan, Jakarta.
Brian Tracy, (2005), Change Your Thinking Change Your Life, Mizan Media Utama, Bandung. 
Carlhouns, J.F., (1995), Psikologi Tentang Penyesuaian dan Hubungan Kemanusiaan.(Terjemaham R.S. Satmoko), Semarang: IKIP Press
Dahlan, Mohamad Djawad. (2005) Pendidikan dan Konseling di Era Global. Dalam Perspektif Prof. Dr. M. Djawat Dahlan, Rizqi Press, Bandung.
Al-Quran dan Terjemahannya, Medinah Munawwarah, Mujamma Al-Malik Fahd Li ThibaatAl-Mush-haf Asy-Syarief, 1418 H.
AlAmir, Najib Khalid, Tarbiyah Rasulullah, terj., Jakarta: Gema Insani Press, 1994.
Albaili, Mohamed A., Abdul Qader A., Qassem & Ahmed A. Al-Samadi, Educational Psycho-
logy and its Application, Kuweit: Al-Falah Library, 1997.
Daradjat, Zakiah, Kesehatan Mental, Jakarta: CV. Haji Masagung, 1990.
El-Quussy, Abdul Aziz, Pokok-Pokok Kesehatan Jiwa/Mental, terj., Jakarta: Bulan Bintang,
1975.
Fahmi, Musthafa, Penyesuaian Diri, terj., Jakarta: Bulan Bintang, 1983.
Rakhmat, Jalaluddin, Psikologi Komunikasi, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1993.
 ----------Islam Aktual, Bandung: Mizan, 1991.
Ulwan, Abdullah Nasih, Tarbiyah Al-Aulad Fi Al-Islam, Al-Ghoriah: Dar Al-Salam, 1997.




0 komentar:

Post a Comment

Search

Form Pengajuan Judul Skripsi 2017/2018

Agenda

Agenda

Informasi Akademik Terbaru

Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling

Hari: Sabtu, 6 Agustus 2016
Pembicara :
1. Drs. Nasruddin (Dirjen PAUD Dikmas)
2. Dr. Muh Farozin, M.Pd (Ketua Program Studi BK Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta)
3. Dr. Santoso, M.Pd. (Koordinator CYLIN UMK dan Sekretaris Program Pascasarjana S2 Pendidikan Dasar Universitas Muria Kudus)

Artikel Terpopuler

Arsip Berita

Powered by Blogger.

Download

Materi Kuliah Perdana (5 Maret 2014) Oleh: Dr. Adi Atmoko, M.Si