12 Sep 2012

MEMANTAPKAN KINERJA GURU BIMBINGAN DAN KONSELING DI SEKOLAH (Upaya menjadi Guru Bimbingan dan Konseling Idola Siswa)


Oleh:
Kusnarto Kurniawan

  1. Pendahuluan
Hasil uji kompetensi awal guru termasuk guru bimbingan dan konseling yang dilaksanakan sebagai seleksi yang akan mengikuti pendidikan dan latihan profesi guru menunjukkan rata-rata yang masih rendah. Meteri ujian pada dua kompetensi yaitu kompetensi pedagogik dan kompetensi profesional. Kondisi ini menimbulkan perubahan yang cukup berarti dalam pelaksanaan PLPG tahun 2012 dengan menekankan pada penguasaan konsep berupa wawasan dan pengetahuan porsinya lebih banyak dibandingkan yang praktik. Padahal kenyataan untuk guru bimbingan dan konseling untuk praktik memberikan layanan bimbingan dan konseling juga belum tentu sudah menunjukkan hal seperti yang diharapkan serta yang seharusnya dilakukan.
Pada tataran penyelenggaraan PLPG seperti di UNNES dihadapkan pada situasi yang sulit disatu sisi harus memantapkan penguasaan materi berupa wawasan dan pengetahuan BK, konsep dasar dan substansi BK sementara disisi lain praktik memberikan layanan juga belum maksimal seperti yang seharusnya dilakukan. Keadaan yang demikian makin parah ketika peserta PLPG pola pikir, pola sikap dan pola tindak juga tidak sejalan dengan tujuan PLPG untuk meningkatkan kompetensi dan meningkatkan mutu pelayanan. Karena beberap indikasi menunjukkan bahawa PLPG sebagai tujuan untuk memperoleh tunjangan profesional.
Budaya serba instan menjadi kendala tersendiri manakala guru bimbingan dan konseling yang sudah lulus sertifikasi mendapat sertifikat guru bimbingan dan konseling profesional kemudian mendapatkan tunjangan profesi tetapi belum menunjukkan kinerja yang profesional. Salah satu indikatornya adalah kecemasan menghadapi penilaian kinerja guru bimbingan dan konseling yang lebih parah bingung dan tidak paham apa yang semestinya disiapkan. Padahal kalau guru bimbingan dan konseling sudah professional melakukan kinerja dengan benar tentu bukan masalah dengan penilaian kinerja yang mau diterapkan pada tahun 2013. Kuncinya adalah pada kinerja guru bimbingan dan konseling yang benar-benar profesional. Makalah ini mengulas dari salah satu pelaksanaan pelayanan untuk unjuk kerja guru bimbingan dan konseling makin mantap.

  1. Guru Bimbingan dan Konseling Profesional
Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. (UU No. 14/2005: Pasal 1 Butir 4).
Berdasarkan pengertian di atas, mari kita renungkan, kita intropeksi. (1) Guru Pembimbing sebagai pekerjaan atau kegiatan dan menjadi sumber penghasilan kehidupan pasti kita sepakat iya, bahkan upaya peningkatan kompetensi melalui sertifikasi juga dalam rangka meningkatkan penghasilan supaya lebih bermartabat. (2). Memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan. Mari kita koreksi secara jujur dalm diri kita dengan mengajukan pertanyaan: “Sudahkah kita ahli sebagai guru pembimbing?” Keahlian macam apa yang dipersyaratkan untuk seorang guru pembimbing? Tentunya ahli memberikan pelayanan konseling yang dampak dan hasilnya benar-benar dirasakan oleh pengguna layanan (siswa/konseli atau klien kita). “Sudahkan kita mahir menerapkan pendekatan, keterampilan dan teknik-teknik konseling? Ini pertanyaan berikutnya terkait dengan pengertian profesional di atas. Dengan kemahiran tersebut tentu saja akan menjadi benar-benar dibutuhkan dan dinanti-nanti kehadirannya oleh siswa bahkan lebih jauh menjadi idola siswa kita. Pertanyaan berikutnya cakapkah kita sebagai guru pembimbing? Pemahaman saya cakap dalam pengertian ini termasuk sikap kepribadian kita yang hangat, luwes, terbuka, peka dan mempunyai kesediaan menolong dan membahagiakan siswa kita. (3). Memenuhi stndar mutu atau norma tertentu. Standar mutu kita bisa merujuk kepada Dasar Standardisasi Profesi Konseling (DSPK) maupun Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor (SKAKK). Norma yang kita anut tentunya apa yang tercantum dalam Kode Etik kita. Karena dalam Kode Etik mengatur tentang apa yang boleh, apa yang tidak boleh dan apa yang seharusnya kita lakukan sebagai anggota profesi. Kinerja dan tingkah laku kita mari kita tanyakan pada diri kita, sudahkah seperti yang tercantum dalam DSPK ataupun SKAKK serta sesuai Kode Etik kita? (4). Memerlukan pendidikan profesi. Menurut pengertian ini tentunya seorang dikatakan profesional apabila sudah menempuh pendidikan profesi. Misal seorang dikatakan sebagai Konselor profesional ketika seorang telah menempuh Pendidikan Profesi Konselor (PPK) yang saat ini telah ada di Universitas Negeri Padang (UNP) sejak tahun 1999 dan di Universitas Negeri Semarang (UNNES) sejak tahun 2007 pendidikan ini ditempuh selama satu tahu atau dua semeseter dengan muatan kurikulum 70% praktik nyata di lapangan dan 30% penyegaran teori dan diskusi profesional. Hal ini mengacu kepada standar konselor Amerika (ACA) yaitu 600 jam praktik nyata. Selain PPK pemerintah juga melaksanakan Pendidikan Sertifikasi melalui Pendidikan Profesi salah satu penyelenggaranya adalah Universitas Negeri yogyakarta (UNY) sejak tahun 2008.Setidaknya melalui jalur sertifikasi langsung, portofolio, PLPG maupun PPGBK/K dalam jabatan sebagai regulasi pemerintah yang saat ini berlaku.
Guru Bimbingan dan Konseling yang profesional yang telah memenuhi syarat-syarat tersebut di atas tentunya dalam melaksanakan tugas akan lebih dirasakan, lebih dicintai, dinanti-nanti dan selalu diharapkan kehadirannya utamanya oleh siswa, rekan sejawat dan masyarakat pada umumnya. Semua ini tidak akan tercapai ketika pola pikir, pola sikap dan pola tindak tidak berubah. Resah dan gelisah ketika tunjangan profesi belum kunjung cair bukan resah dan gelisah memikirkan siswanya, menganalisis dan mencari pendekatan serta teknik yang tepat untuk memberikan pelayanan konseling. Bagai yang mau berangkat atau mempersiapkan PLPG seharusnya berpikir bahwa Sertifikat pendidik yang akan diperoleh dengan konsekuensi tunjangan profesi yang diperoleh sebagai alat untuk meningkatkan kompetensi dan meningkatkan mutu kinerja bukan semata-mata untuk mendapatkan tunjangan profesi atau menjadikan sertifikat pendidik sebagai tujuan.

  1. Guru Bimbingan dan Konseling  Idola Siswa
            Guru bimbingan dan konseling idola siswa menurut pemikiran saya tentulah guru pembimbing profesional. Profesional disamping mempersyarakatkan seperti dalam undang-undang yang telah diuraikan di atas, semestinya guru pembimbing memahami wilayah kerja Konselor Sekolah/Guru Bimbingan dan Konseling dan ciri-ciri profesi. Di bawah ini diuraikan wilayah kerja Konselor Sekolah/Guru Bimbingan dan Konseling dan ciri-ciri profesi yang semestinya kita pedomani dan amalkan.
            Persamaan pada kesamaan wilayah kerja Guru dan Konselor: (1) dalam wilayah pendidikan, (2) sebagai agen pembelajaran, (3) mengelola proses pembelajaran.
Kompetensi antara Guru dengan Konselor dapat digambarkan dalam matriks sebagai berikut:
Fungsi Konseling
Kompetensi Agen Pembelajaran
Pedagogik
Kepribadian
Profesional
Sosial
Pemahaman
Pencegahan
Pengentasan
Pemeliharaan/Pengembangan
Advokasi

Aspek konseling dengan agen pembelejaran dapat digambarkan sebagai berikut:

Aspek Kompetensi Konseling
Kompetensi Agen Pembelajaran
Pedagogik
Kepribadian
Profesional
Sosial
Nilai, moral, dan kepribadian
Pemahaman terhadap klien
Teori Konseling
Praktik pelayanan
Pengembangan Profesi

Mengelola kegiatan antara Guru dan Konselor dapat digambarkan sebagai berikut:

Komponen Pelaksanaan Layanan
 (Frase Kegiatan)
Guru
Konselor
            merencanakan
menilai hasil
membimbing/   melatih
mendidik
mengarahkan
mengevaluasi

Konteks tugas antara Guru dan Konselor dapat digambarkan sebagai berikut:
Komponen Pelaksanaan Layanan
Guru
Konselor
mata pelajaran
Ya
Tidak
kebutuhan peserta didik
Tdk spesifik
Spesifik
perkembangan peserta didik
Tdk spesifik
Spesifik
masalah peserta didik
Terkait mata pelajaran
Pribadi, sosial, belajar, karir


Modus kegiatan antara Guru dan Konselor dapat digambarkan sebagai berikut:

Komponen Pelaksanaan Layanan
Guru
Konselor
Orientasi klasikal

Penuh

Alternatif

Orientasi kelompok
Alternatif
Alternatif
Orientasi individual
Minim
Mutlak
Metode langsung
Diutamakan
Alternatif
Metode tdk langsung
Alternatif
Diutamakan
Pendekatan thd peserta didik
Sangat minim
Mutlak

            Wilayah kerja Konselor Sekolah/Guru Bimbingan dan Konseling adalah (1) Individu normal yang terganggu kehidupan efektif sehari-harinya (KES-T), (2) Bukan masalah kriminal. Contoh ketika individu datang dan mengatakan.”Saya baru membunuh seseorang,” maka kita selaku profesional tidak boleh menangani individu tersebut sebelum melaporkan diri atau diproses seacara hukum. Karena apabila kita mengetahui seseorang tersebut terkait dengan masalah kriminal sedangkan kita tidak melaporkan ke polisi, kita bisa dipermasalahkan oleh kepolisian. (3) Bukan masalah penyakit yang menjadi kewenangan dokter. Misalnya seseorang yang mau diamputasi. Proses amputasinya adalah kewenangan dokter, kita bisa menangani KES-T nya mengahadapi amputasi atau pascva amputasi. (4) Keabnormalan akut termasuk individu yang berkebutuhan khusus karena yang berhak menangani pendidikan luar biasa. (5) Bukan masalah spiritual atau mistik seperti guna-guna, pelet, santhet dll, (6) Bukan masalah psykotropika. Dari batasan wilayah kerja enam hal di atas yang bisa kita tangani adalah kondisi ketidak efektifan kehidupan sehari-hari atau KES-T nya.
            Ciri-ciri profesi yang seharusnya mewarnai profesi meliputi sisi-sisi keintelektualan, kompetensi profesional yang dipelajari, objek praktis yang spesifik, komunikasi, organisasi, dan motivasi. Berikut ini dikemukakan secara ringkas aplikasi keenam ciri tersebut terhadap pekerjaan profesi konselor dalam pelayanan konseling.
               Pekerjaan konselor dalam pelayanan profesi konseling didasarkan pada dan sarat dengan kaidah-kaidah serta pertimbangan intelektual. Kegiatan konseling lebih bersifat mental daripada manual; lebih memerlukan proses berpikir daripada sekedar rutin. Dalam pelayanan konseling, konselor dituntut untuk berpikir dalam menangani permasalahan klien; demikian pula klien, melalui bantuan konselor diharapkan mampu memikirkan pemecahan masalah yang dihadapinya. Melalui proses berpikir ini hasil pelayanan konseling merupakan hasil belajar yang bukan sekedar resep yang sudah jadi untuk diikuti oleh klien.
                  Pekerjaan konselor didasarkan pada berbagai kompetensi yang tidak diperoleh begitu saja, misalnya melalui pewarisan ilmu dari pewaris kepada keturunannya, melainkan melalui proses pembelajaran secara intensif. Kemampuan dalam penyelenggaraan pelayanan konseling tidak diperoleh dalam sekejap melalui mimpi, atau melalui semedi atau bertapa sekian lama, atau melalui pengorbanan sesaji kepada pemegang tuah sakti. Konselor harus dengan sungguh-sungguh, serta mencurahkan segenap pikiran dan usaha, untuk mempelajari materi keilmuan, pendekatan, metode, dan teknik serta nilai dan sikap berkenaan dengan pelayanan konseling. Berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung konseling memerlukan pemahaman dan keterampilan tersendiri yang harus dipelajari dengan seksama. Kompetensi seperti ini, dibarengi dengan tuntutan untuk berpikir,  secara terus-menerus mengikuti dan mengakomodasi perkembangan ilmu dan teknologi. Pemberlakuan kredensialisasi yang meliputi program-program sertifikasi, akreditasi, dan lisensi merupakan upaya untuk menguji dan memberikan bukti penguasaan dan kewenangan atas kompetensi konselor dalam pelayanan profesionalnya.
                  Pekerjaan konselor yang berupa praktik pelayanan konseling terarah kepada objek spesifik yang tidak ditangani oleh profesi lain. Konselor menangani individu normal yang tidak mampu menjalani kehidupannya sehari-hari secara efektif. Gangguan terhadap kehidupan efektif sehari-hari (KES) inilah yang menjadi objek spesifik pelayanan konseling.
                  Dalam kehidupannya individu menghadapi dan dihadapkan kepada sejumlah kondisi yang ada pada diri sendiri dan lingkungannnya, yang secara langsung ataupun tidak langsung mempengaruhi keefektifan kehidupannya sehari-hari. Kondisi-kondisi itu misalnya: warna kulit, kondisi kesehatan, tinggi badan, berat badan, hasil belajar di sekolah, warna rambut, status perkawinan, kondisi ekonomi, keadaan orang tua, tuntutan nilai-nilai budaya, hubungan kakak-adik, aspirasi pekerjaan, hobi, dan lain sebagainya. Pelayanan konseling pada dasarnya tidak menangani secara spesifik kondisi-kondisi yang dimaksud. Untuk menangani masing-masing kondisi itu, apabila memang memerlukan penanganan secara intensif, ada ahli tersendiri, atau setidak-tidaknya ada cara tersendiri yang dapat dilakukan. Objek spesifik pelayan konseling bukanlah kondisi-kondisi sebagaimana dicontohkan itu, melainkan perilaku efektif  individu yang bersangkutan berkenaan dengan kondisi tertentu dengan berbagai keterkaitannya, yang secara signifikan diungkapkan di dalam proses konseling.
                  Perilaku efektif individu sebagaimana dimaksudkan di atas pertama-tama tertuju kepada kondisi yang secara langsung dibahas, dan lebih jauh terarah kepada perilaku efektif dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku efektif terhadap penyakit (yang diderita klien yang menjalani proses konseling) misalnya, akan mempercepat penyembuhan penyakit tersebut (yang penanganan lansungnya dilakukan oleh dokter). Di samping itu, perilaku efektif terhadap penyakit (dan hal-hal lain yang terkait) diharapkan dapat mengimbas ke aspek-aspek kehidupan sehari-hari lainnya. Dalam hal inilah KES terangkatkan. Perhatikan gambar berikut.

Keterkaitan antara kondisi yang dihadapi Klien,
KES, dan Pelayanan Profesi Konseling







     




Pengembangan perilaku efektif untuk terbangunnya KES memerlukan wawasan, pengetahuan, kemampuan bertindak, nilai dan sikap (WPKNS) berkenaan dengan kondisi-kondisi yang dibahas. WPKNS yang terarah kepada KES menjadi substansi pokok (objek spesifik) yang menjadi fokus penanganan klien melalui pelayanan konseling.
    Segenap aspek pelayanan konseling, meliputi aspek-aspek keilmuan dan teknologinya, kompetensi dan substansi pelayanannya, serta aspek-aspek sosial dan hukumnya, dapat dikomunikasikan kepada siapapun yang berkepentingan. Untuk ini disusun aturan kode etik, kredensial, dan perundangan yang memungkinkan (1) dapat dikomunikasikan dan dipraktikkannya profesi konseling secara tepat, dan (2) dilaksanakannya pengawasan atas mutu praktik serta perlindungan terhadap praktisi konseling dalam menyelenggarakan pelayanan konseling.
      Konselor membentuk organisasi profesi untuk mengawal tugas-tugas keprofesiannya, melalui trilogi: (1) ikut serta mengembangkan keilmuan dan teknologi konseling, (2) meningkatkan mutu praktik pelayanan konseling, dan (3) menjaga kode etik profesi konseling. Organisasi profesi ini secara langsung peduli atas realisasi sisi-sisi keintelektualan, kompetensi, objek spesifik dan komunikasi profesi, serta membina anggotanya untuk memiliki kualitas yang tinggi berkenaan dengan keempat hal tersebut. Dalam organisasi profesi para konselor secara bersama-sama membesarkan profesi konseling, bukan sekedar untuk kepentingan profesi itu sendiri, melainkan terutama sekali untuk kepentingan masyarakat sesuai dengan paradigma, visi dan misi pelayanan konseling.
   Motivasi professional konselor bukanlah untuk kepentingan ataupun keuntungan diri sendiri, melainkan untuk kebahagiaan klien dan masyarakat pada umumnya. Motivasi altruistik ini diwujudkan melalui peningkatan keintelektualan,  kompetensi dan komunikasi dalam manangani objek praktis spesifik konseling sebagaimana diuraikan di atas, baik melalui pengembangan diri sendiri maupun kegiatannya dalam organisasi profesi dan anggota masyarakat pada umumnya. Motivasi profesional konseling akan menjauhkan konselor dari pengutamaan pamrih pribadi dan lebih mengedepankan klien. Dalam hal ini, jika diperlukan konselor mengorbankan kepentingan diri sendiri demi terpenuhinya kebutuhan klien yang benar-benar mendesak. yang seharusnya mewarnai profesi meliputi sisi-sisi keintelektualan, kompetensi profesional yang dipelajari, objek praktis yang spesifik, komunikasi, organisasi, dan motivasi. Keenam ciri-ciri tersebut sampai sekarang masih tetap relevan dan dipakai untuk menimbang apakah suatu pekerjaan sosial merupakan sebuah profesi. Berikut ini dikemukakan secara ringkas aplikasi keenam ciri tersebut terhadap pekerjaan profesi konselor dalam pelayanan konseling.
Guru pembimbing harus menguasai teori dan praktik konseling dengan cara (1) menguasai spektrum pelayanan yaitu pelayanan dasar, pelayanan pengembangan dan pelayanan khusus/teraputik juga spektrum pelayanan konseling yang terdiri atas Paradigma, visi dan misi; pengertian, tujuan, fungsi, prinsip, asas, dan landasan; Bidang layanan; Jenis layanan dan kegiatan pendukung serta Kode etik, (2) Menjelaskan peran konselor di awal tahun pelajaran kepada peserta didik, pimpinan lembaga, sejawat pendidikan, orang tua serta masyarakat, (3) Menyusun dan melaksanakan program pelayanan yaitu program tahunan, semesteran, bulanan, mingguan dan program harian dengan laporan pelaksanaan programnya disertai evaluasi yang handal, (4) Mewaspadai dan menghindari kondisi negative yang harus ditinggalkan dan tidak boleh dilaksanakan karena akan merusak citra dan kinerja guru pembimbing. Kondisi yang dimaksud adalah menjaga kerahasiaan data atau keteranganh klien, tidak melabeli atau memberi julukan atau sebutan kepada peserta didik, tidak bertindak sebagai polisi sekolah seperti memata-matai, menginterogasi, merazia, membuat suratperjanjian kalau anak yang terkena pelanggaran disiplin terkena surat perjanjian yang bias kita lakukan setelah anak tersebut terkena dampak ketidak efektifannya kita tangai dengan proses konseling atau diberikan layanan sebelumnya supaya tidak terkena misalnya dengan layanan informasi, orientasi atau bimbingan kelompok, ruang dan suasana kerja bukan system TU hal ini semata-mata demi tugas professional kita yaitu menjaga kerasahaiaan dan membuat suasana nyaman ketika siswa kita menjalani proses konseling,
(5) Mengembangkan profesionalisme dengan membuat laporan secara benar dan fungsi kepengawasan pelayanan konseling secara berkala, melakukan diskusi profesional dengan guru pembimbing atau konselor sekolah, mengikuti pendidikan dalam jabatan, sertifikasi dan ikut aktif dalam organisasi profesi misalnya dalam Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MBK), Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN)

  1. Pelayanan Khas
Guru bimbingan dan konseling akan sangat dirasakan pelayanannya dan membedakan dengan guru mata pelajaran serta menghilangkan stigma sebagai polisi sekolah ketika secara komprehensif memberikan semua jenis layanan dan kegiatan pendukung. Terutama layanan konseling perorangan, bimbingan kelompok, dan konseling kelompok. Ketika tiga layanan ini diberikan dampak yang akan dirasakan siswa akan sangat berbeda ketika guru bimbingan dan konseling benar-benar menerapkan dengan tahapan yang benar, teknik umum dan teknik khusu diterapkan. Ketiga layanan ini juga akan mengokohkan profesionalisme seorang guru bimbingan dan konseling.
Layanan konseling perorangan yang dilakukan melalui tahapan-tahapan yang benar, menggunakan teknik umum dan teknik khusus secara tepat tentu akan sangat dirasakan manfaatnya oleh siswa. Tetapi bila yang terjadi justru banyak menasehati siswa akan merasa bosan, tidak diperhatikan dan guru lain menganggap kalau hanya melakukan hal seperti itu semua orang bisa. Konseling perorangan yang banyak memberikan nasehat akan membuat siswa pasif serta tidak nampak khas dan profesionalnya seorang guru bimbingan dan konseling.
Bimbingan kelompok apabila dilaksanakan untuk membahas topik yang sedang hangat, aktual terjadi, dan ada urgensinya bagi perkembangan siswa tentu akan sangat antusias siswa mengikuti. Dalam pelaksanaannya benar-benar melakukan tahapan-tahapan yang benar serta tujuan tetap dipegang yaitu mengembangkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dan meningkatkan interaksi didalamnya bisa unjuk kebolehan, siswa akan merasakan sebagai layanan yang khas berbeda dengan kegiatan diskusi, kerja kelompok ataupun seminar. Ketika diberikan topik tugas misalnya kiat sukses menghadapi ujian nasional, kiat sukses menghadapi ujian akhir sekolah atau topik-topik lain yang relevan dengan perkembangan siswa sudah pasti akan tertarik dan antusias mengikuti.
Konseling kelompok juga merupakan layanan primadona karena dengan mengentaskan masalah pribadi anggota kelompok melalui dinamika kelompok siswa akan saling sokong, saling asah, saling asih dan saling asuh. Sikap empati juga akan tumbuh, sikap menghargai dan menghormati juga akan berkembang. Diakhir kegiatan akan tumbuh kebersamaan dan kekeluargaan serta rsa ingin bertemu dan mengulang kembali kegiatan. Apabila kepala sekolah melihat dan anak bercerita kepada orang tua. Kepala sekolah dan orang tua merasakan dampak dan manfaat dari layanan konseling kelompok maka akan menjadi nilai lebih kinerja guru bimbingan dan konseling.
Pertanyaannya sekarang tinggal maukah, sanggupkah, bersediakah kita melaksanakan semua layanan dan kegiatan pendukung dan layanan konseling perorangan, bimbingan kelompok, serta konseling kelompok sebagai layanan primadona? Semua berpulang kepada kita sebagai pelaksana. Ketika tuntutan nurani karena sudah mendapatkan tunjangan profesi maka kita harus bekerja profesional. Ketika kita sudah bekerja profesional, kemudian siswa mengharapkan, merindukan dan menanti kapan kegiatan dilakukan lagi, kehadiran kita dirasakan manfaatnya, saat itulah sebenarnya kinerja kita mantap, profesional, dan akan menjadi idola siswa.

  1. Penutup
Keprofesionalan kita semestinya tercermin dalam tingkah laku kita, terwujudkan dalam unjuk kerja dan karya nyata kita dapat dirasakan manfaatnya oleh siswa, rekan sejawat dan masyarakat. Di mata siswa karena kerja kita yang profesiona tentunya kita menjadi Konselir Idola. Cara untuk mewujudkan itu karena kegiatan yang bisa dilaksanakan melalui pelayanan konseling, maka mari kita renungkan syukur-syukur kita wujudkan Konseling sebagai Filsafat, Jalan hidup, Sikap, Komitmen, Aksi (kegiatan nyata), dan Pandangan mendunia
     Harapan siswa kita adalah You raise me up to more than I can be artinya Kau tegakkan daku lebih dari mampuku. Apabila kita sudah mampu berbuat demikian, siswa merasakan kita mampu mendorong, memotivasi bahkan menegakkan lebih dari kemampuan dan kekuatan siswa, tentulah siswa kita akan merasa sangat bangga,mencintai dan tentunya meng-idola-kan kita sebagai guru pembimbing atau konselor sekolah.    

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas, 2004, Dasar Standardisasi Profesi Konseling, Dir PPTK&KPT, Bagiam Proyek Peningkatan Tenagan Akademik, Dirjendikti Depdiknas

Depdiknas, 2007, Draf Final Model Pengembangan SMP/MTs, Jakarta: Puskur Balitbang Depdiknas.

Depdiknas, 2007, Draf Final Model Pengembangan SMA/MA, Jakarta: Puskur Balitbang Depdiknas.

Depdiknas, 2007, Draf Final Model Pengembangan SMK, Jakarta: Puskur Balitbang Depdiknas.

Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia, 2005, Standar Kompetensi Konselor Indonesia, Bandung: PB ABKIN

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan  untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah

Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan  Nasional (SNP)

Prayitno, 2006, Spektrum dan Keprofesian Profesi Konseling, Padang: Jurusan BK FIP UNP

Prayitno, 2007, Konseling Pancawaskita, Padang: Jurusan BK FIP UNP

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen.


4 comments:

  1. Sangat bermanfaat pak, to kami yang baru belajar BK. salam cerdas dan santun.

    ReplyDelete
  2. Gambar KES nya dimana pak? tolong di lengkapi. Suwun

    ReplyDelete
  3. Sukes selalu, berbagi Info buat rekan akademika.
    Selamat siang, informasi Seminar Internasional di Jogja November 2015 ini di Mercu Buana Yogya. Info lengkap bisa dilihat di :
    Seminar internasional 2015

    Semoga berkenan, Trima kasih

    ReplyDelete
  4. Terima kasih atas informasinya tentang bk.
    Kunjungi juga situ saya, mengenai bk.
    BIMBINGAN KONSELING AREA

    ReplyDelete

Search

Form Pengajuan Judul Skripsi 2017/2018

Agenda

Agenda

Informasi Akademik Terbaru

Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling

Hari: Sabtu, 6 Agustus 2016
Pembicara :
1. Drs. Nasruddin (Dirjen PAUD Dikmas)
2. Dr. Muh Farozin, M.Pd (Ketua Program Studi BK Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta)
3. Dr. Santoso, M.Pd. (Koordinator CYLIN UMK dan Sekretaris Program Pascasarjana S2 Pendidikan Dasar Universitas Muria Kudus)

Artikel Terpopuler

Arsip Berita

Powered by Blogger.

Download

Materi Kuliah Perdana (5 Maret 2014) Oleh: Dr. Adi Atmoko, M.Si