6 Sep 2012

KONSELING TEMAN SEBAYA (PEER COUNSELING)


"Pemanfaatan Interaksi Remaja dalam  Layanan Bimbingan dan Konseling di SLTP dan SLTA"

Oleh:
Dr. Suwarjo, M.Si.


A. Pendahuluan
Dilihat dari aspek perkembangannya, siswa SLTP dan SLTA pada umumnya berada pada masa remaja yang terentang dari masa remaja awal sampai dengan masa remaja akhir. Dalam  segala segi,  remaja  mengalami perubahan, dan  perubahan-perubahan yang sangat cepat sering menimbulkan kegoncangan dan ketidak-pastian. Goncangan dan ketidak pastian juga muncul dari lingkungan yang sedang dan akan terus cepat berubah.  Dalam menghadapi badai perkembangan ("storm and stress") banyak remaja yang berhasil mengatasi berbagai rintangan. Mereka menjadikan rintangan dan berbagai kegagalan sebagai peluang dan tantangan untuk tetap bangkit meraih keberhasilan, membentuk kelompok sebaya untuk saling menguatkan,  dan pada akhirnya berhasil melaksanakan tugas-tugas perkembangan secara wajar.  Di pihak lain, banyak pula remaja yang gagal dan kandas terhempas ke dalam berbagai tingkah  laku menyimpang yang tidak sesuai dengan tugas-tugas perkembangan yang dituntut­kan kepadanya. Badai perkembangan dihayati sebagai suatu masalah yang tidak dapat dipecahkan, dan mereka larut dalam kegagalan. Seringkali kelompok individu ini juga larut dalam aktivitas kelompok sebaya yang kurang positif.
Keeratan, keterbukaan dan perasaan senasib yang muncul di antara sesama remaja dapat menjadi peluang bagi upaya fasilitasi perkembangan remaja. Pada sisi lain, beberapa karakteristik psikologis remaja (antara lain emosional, labil) juga merupakan tantangan bagi  efektifitas layanan terhadap mereka.  Pentingnya teman sebaya bagi remaja antara lain tampak dalam konformitas remaja terhadap kelompok sebayanya. Konformitas terhadap pengaruh teman sebaya dapat berdampak positif dan negatif. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana sebaiknya interaksi antar remaja dikelola agar berdampak positif dan dapat memberikan dukungan terhadap perkembangan optimal mereka? Apakah konseling teman sebaya dapat menjadi sarana dan jembatan layanan konselor kepada  remaja?
B. Pentingnya Relasi Teman Sebaya
Tidak diragukan lagi bahwa keluarga merupakan salah satu konteks sosial yang penting bagi perkembangan anak. Meskipun demikian perkembangan anak juga sangat dipengaruhi oleh apa yang terjadi dalam konteks sosial yang lain seperti relasi dengan teman sebaya. Laursen (2005 : 137) menandaskan bahwa teman sebaya merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan pada masa-masa remaja.  Penegasan Laursen dapat dipahami karena pada kenyataannya remaja dalam masyarakat moderen seperti sekarang ini menghabiskan sebagian besar waktunya bersama dengan teman sebaya mereka (Steinberg, 1993 : 154).
Penelitian yang dilakukan Buhrmester (Santrock, 2009 : 394) menunjukkan bahwa pada masa remaja kedekatan hubungan dengan teman sebaya meningkat secara drastis, dan pada saat yang bersamaan kedekatan hubungan remaja  dengan  orang  tua  menurun  secara  drastis.  Hasil  penelitian Buhrmester dikuatkan oleh temuan Nickerson & Nagle (2005 : 240) bahwa pada masa remaja komunikasi dan kepercayaan terhadap orang tua berkurang, dan beralih kepada teman sebaya untuk memenuhi kebutuhan  akan kelekatan (attachment). Penelitian Crosnoe dkk. (2008); Rubin, Fredstrom, dan Bowker (2008) dalam Santrock, (2009:394) menemukan bahwa karakteristik teman sebaya memiliki pengaruh yang penting terhadap perkembangan remaja. Hal ini antara lain terlihat pada rata-rata prestasi belajar yang tinggi secara konsisten telah menjadi prediktor bagi prestasi sekolah yang positif. Sebaliknya, prestasi belajar yang rendah telah menjadi prediktor bagi perilaku-perilaku negatif seperti penyalahgunaan obat terlarang. Penelitian lain menemukan remaja yang memiliki hubungan dekat dan berinteraksi dengan pemuda yang lebih tua akan terdorong untuk terlibat dalam kenakalan, termasuk juga melakukan hubungan  seksual  secara  dini  (Billy,  Rodgers,  &  Udry,  dalam  Santrock,  2009 : 394). Sementara itu, remaja alkoholik tidak memiliki hubungan yang baik dengan teman sebayanya dan memiliki kesulitan dalam membangun kepercayaan pada orang lain (Muro & Kottman, 1995 : 229). Remaja membutuhkan afeksi dari remaja lainnya, dan membutuhkan kontak fisik yang penuh rasa hormat. Remaja juga membutuhkan perhatian dan rasa nyaman ketika mereka menghadapi masalah, butuh orang yang mau mendengarkan dengan penuh empati, serius, dan memberikan kesempatan untuk berbagi kesulitan dan perasaan seperti rasa marah, takut, cemas, dan keraguan (Cowie and Wallace, 2000 : 5).
Teman sebaya atau peers  adalah anak-anak  atau remaja dengan tingkat kematangan atau usia yang kurang lebih sama. Salah satu fungsi terpenting dari kelompok teman sebaya adalah untuk memberikan sumber informasi dan komparasi tentang dunia di luar keluarga. Melalui kelompok teman sebaya individu menerima umpan balik dari teman-teman mereka tentang kemampuan mereka. Remaja menilai  apa-apa  yang  mereka  lakukan,  apakah  dia  lebih  baik dari pada teman-temannya, sama, ataukah lebih buruk dari apa yang remaja  lain kerjakan. Hal demikian akan sulit dilakukan dalam keluarga karena saudara-saudara kandung biasanya lebih tua atau lebih muda (bukan sebaya) (Santrock, 2004 : 287).  Hubungan yang baik di antara teman sebaya akan sangat membantu perkembangan aspek sosial anak secara normal. Anak  pendiam yang ditolak oleh teman sebayanya, dan merasa kesepian berisiko menderita depresi. Anak-anak yang agresif terhadap teman sebaya berisiko pada berkembangnya sejumlah masalah seperti kenakalan dan drop out dari sekolah. Gladding (1995 : 113-114) mengungkapkan bahwa dalam interaksi teman sebaya memungkinkan terjadinya proses identifikasi, kerjasama dan proses kolaborasi. Proses-proses tersebut akan mewarnai proses pembentukan tingkah laku yang khas pada remaja.
Persahabatan di antara teman sebaya memiliki arti penting bagi remaja. Menurut Gottman & Parker (Santrock, 2009 : 339), persahabatan memiliki enam fungsi yaitu:
1.    Keakraban (companionship)
Persahabatan memungkinkan remaja bermain dan  beraktivitas secara kolaboratif serta menghabiskan waktu bersama teman bermain, atau teman yang sudah dikenal baik. 
2.    Stimulasi
Persahabatan memungkinkan remaja memperoleh informasi yang menarik, dan menyenangkan.
3.    Dukungan fisik
Persahabatan memungkinkan remaja memperoleh berbagai kesempatan, sumber-sumber dan bantuan.
4.    Dukungan Ego
Persahabatan memberikan peluang kepada remaja untuk memperoleh dukungan, dorongan dan umpan balik dari teman sebaya, yang kesemuanya itu membantu remaja mempertahankan perasaan bahwa dirinya adalah individu yang kompeten, menarik dan berguna.
5.    Perbandingan sosial
Persahabatan memungkinkan remaja memperoleh informasi tentang dalam hal apa ia merasa sama seperti remaja lainnya, dan di mana dia merasa berbeda.
6.    Intimasi dan afeksi
Persahabatan memungkinkan remaja memperoleh suatu kehangatan, kedekatan hubungan, membangun hubungan yang saling mempercayai dengan sebaya lainnya. Dari hal-hal yang demikian keterbukaan diri akan terjadi.
Penelitian yang dilakukan Willard Hartup (1996, 2000, 2001; Hartup & Abecassiss, 2002; dalam Santrock, 2004 : 352) selama tiga dekade menunjukkan bahwa sahabat dapat menjadi sumber-sumber kognitif dan emosi sejak masa kanak-kanak sampai dengan masa tua. Sahabat dapat memperkuat harga diri dan perasaan bahagia. Sejalan dengan hasil penelitian tersebut, Cowie and Wellace (2000 : 8) juga menemukan bahwa dukungan teman sebaya banyak membantu atau memberikan keuntungan kepada anak-anak yang memiliki problem sosial dan problem keluarga, dapat membantu memperbaiki iklim sekolah, serta memberikan pelatihan keterampilan sosial. Berndt (1999) mengakui bahwa tidak semua teman dapat memberikan keuntungan bagi perkembangan. Perkembangan individu akan terbantu apabila anak memiliki teman yang secara sosial terampil dan bersifat suportif. Sedangkan teman-teman yang suka memaksakan kehendak dan banyak menimbulkan konflik akan menghambat perkembangan (Santrock, 2004 : 352).
Konformitas terhadap pengaruh teman sebaya dapat berdampak positif dan negatif. Beberapa tingkah laku konformitas negatif antara lain  menggunakan kata-kata jorok, mencuri, tindakan perusakan (vandalize), serta mempermainkan orang tua dan guru. Namun demikian, tidak semua konformitas terhadap kelompok sebaya berisi tingkah laku negatif. Konformitas terhadap teman sebaya mengandung keinginan untuk terlibat dalam dunia kelompok sebaya seperti berpakaian sama dengan teman, dan menghabiskan sebagian waktunya bersama anggota kelompok. Tingkah laku konformitas yang positif terhadap teman sebaya  antara lain bersama-sama teman sebaya mengumpulkan dana untuk kepentingan kemanusiaan (Santrock, 2004 : 415). Teman sebaya juga memiliki peran yang sangat penting bagi pencegahan penyalahgunaan Napsa dikalangan remaja. Hubungan yang positif antara remaja dengan orang tua dan juga dengan teman sebayanya merupakan hal yang sangat penting dalam mengurangi penyalahgunaan Napsa (Santrock, 2004 : 283).
Memperhatikan pentingnya peran teman sebaya, pengembangan lingkungan teman sebaya yang positif merupakan cara efektif yang dapat ditempuh  untuk mendukung perkembangan remaja. Dalam kaitannya dengan keuntungan remaja memiliki kelompok teman sebaya yang positif, Laursen (2005 : 138) menyatakan bahwa kelompok teman sebaya yang positif memungkinkan remaja merasa diterima, memungkinkan remaja melakukan katarsis, serta memungkinkan remaja menguji nilai-nilai baru dan pandangan-pandangan baru. Lebih lanjut Laursen menegaskan bahwa kelompok teman sebaya yang positif  memberikan kesempatan kepada remaja untuk membantu orang lain, dan mendorong remaja untuk mengembangkan jaringan kerja untuk saling memberikan dorongan positif. Interaksi di antara teman sebaya dapat digunakan untuk membentuk makna dan persepsi serta solusi-solusi baru. Budaya teman sebaya yang positif memberikan kesempatan kepada remaja untuk menguji keefektivan komunikasi, tingkah laku, persepsi, dan nilai-nilai yang mereka miliki. Budaya teman sebaya yang positif sangat membantu remaja untuk memahami bahwa dia tidak sendirian dalam menghadapi berbagai tantangan. Budaya teman sebaya yang positif dapat digunakan untuk membantu mengubah tingkah laku dan nilai-nilai remaja (Laursen, 2005 : 138). Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membangun budaya teman sebaya yang positif adalah dengan mengembangkan konseling teman sebaya dalam komunitas remaja.
C.  Konseling Teman Sebaya
Pada awalnya konseling teman sebaya muncul dengan konsep peer support  yang dimulai pada tahun 1939 untuk membantu para penderita alkoholik (Carter, 2005 : 2). Dalam konsep tersebut diyakini bahwa individu yang pernah kecanduan alkohol dan memiliki pengalaman  berhasil mengatasi kecanduan tersebut akan lebih efektif dalam membantu individu lain yang sedang mencoba mengatasi kecanduan alkohol. Dari tahun ke tahun konsep teman sebaya terus merambah ke sejumlah setting dan issue.
Pada dasarnya konseling teman sebaya merupakan suatu cara bagi para siswa (remaja) belajar bagaimana memperhatikan dan membantu siswa lain, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari (Carr, 1981 : 3). Sementara itu, Tindall dan Gray (1985 : 5) mendefinisikan konseling teman sebaya sebagai suatu ragam tingkah laku membantu secara interpersonal    yang dilakukan oleh individu nonprofesional yang berusaha membantu orang lain.  Menurut Tindall & Gray, konseling teman sebaya mencakup hubungan membantu yang dilakukan secara individual (one-to-one helping relationship), kepemimpinan kelompok, kepemimpinan diskusi, pemberian pertimbangan, tutorial, dan semua aktivitas interpersonal manusia untuk membantu atau menolong.  Definisi lain menekankan konseling teman sebaya sebagai suatu metode, seperti dikemukakan Kan (1996 : 3) “Peer counseling is the use problem solving skills and active listening, to support people who are our peers”. Meskipun demikian, Kan mengakui bahwa keberadaan konseling teman sebaya merupakan kombinasi dari dua aspek yaitu teknik dan pendekatan. Berbeda dengan Tindall dan Gray, Kan membedakan antara konseling teman sebaya dengan dukungan teman sebaya (peer support). Menurut Kan peer support  lebih bersifat umum (bantuan informal; saran umum dan nasehat diberikan oleh dan untuk teman sebaya); sementara peer counseling merupakan suatu metode yang terstruktur.
Konseling sebaya merupakan suatu bentuk pendidikan psikologis yang disengaja dan sistematik. Konseling sebaya memungkinkan siswa untuk memiliki keterampilan-keterampilan guna mengimplementasikan pengalaman kemandirian dan kemampuan mengontrol diri yang sangat bermakna bagi remaja. Secara khusus konseling teman sebaya tidak memfokuskan pada evaluasi isi, namun lebih memfokuskan pada proses berfikir, proses-proses perasaan dan proses pengambilan keputusan. Dengan cara yang demikian, konseling sebaya memberikan kontribusi pada dimilikinya pengalaman yang kuat yang dibutuhkan oleh para remaja yaitu respect. (Carr, 1981 : 4).
Kadang kala istilah ″konselor″ menimbulkan kekhawatiran bagi sementara orang karena khawatir berkonotasi dengan konselor professional. Oleh karena itu beberapa orang menyebut ″konselor sebaya″ dengan sebutan ″fasilitator″, atau ″konselor yunior″. Terlepas dari berbagai sebutan yang digunakan, yang lebih penting sebenarnya adalah bagaimana remaja berhubungan satu sama lain, dan dengan cara bagaimana hubungan-hubungan itu dapat digunakan untuk meningkatkan perkembangan mereka. 
Konseling teman sebaya dipandang penting karena berdasarkan pengamatan penulis seba­gian besar  remaja  lebih  sering membicarakan masalah-masalah mereka dengan teman sebaya dibandingkan dengan orang tua, pembimbing, atau  guru di sekolah. Untuk masalah yang dianggap sangat seriuspun   mereka bicarakan dengan teman sebaya (sahabat). Kalaupun terdapat remaja yang akhirnya menceritakan masalah serius yang mereka alami kepada orang tua, pembimbing atau guru, biasanya karena  sudah terpaksa (pembicaraan dan upaya pemecahan masalah bersama teman sebaya mengalami jalan buntu). Hal tersebut terjadi karena remaja memiliki ketertarikan dan komitmen serta ikatan terhadap teman sebaya yang sangat kuat. Remaja merasa bahwa orang dewasa tidak dapat  memahami  mereka dan mereka yakin bahwa hanya sesama merekalah remaja dapat saling memaha­mi. Keadaan yang demikian sering menjadikan remaja sebagai suatu kelompok  yang eksklusif. Fenomena ini muncul sebagai akibat dari berkembangnya karakteristik personal fable  yang didorong oleh perkembangan kognitif dalam masa formal operations (Steinberg, 1993; Santrock, 2004). Keeratan, keterbukaan dan perasaan senasib di antara sesama remaja dapat menjadi peluang bagi upaya memfasilitasi perkembangan remaja. Pada sisi lain, beberapa karakteristik psikologis remaja (emosional, labil) juga merupakan tantangan bagi  efektivitas layanan konseling teman sebaya.
Terdapat sembilan area dasar yang memiliki sumbangan penting terhadap perlunya dikembangkan konseling teman sebaya (Carr, 1981 : 5-12) :
1)   Hanya sebagian  kecil siswa yang memanfaatkan dan bersedia berkonsultasi langsung dengan konselor. Para siswa lebih sering menjadikan teman-teman mereka sebagai sumber yang diharapkan dapat membantu pemecahan masalah yang mereka hadapi. Para siswa tetap menjadikan teman-teman mereka sebagai sumber pertama dalam mempertimbangkan pengambilan keputusan pribadi, perencanaan karir, dan bagaimana melanjutkan pendidikan formal mereka.
2)   Berbagai keterampilan yang terkait dengan pemberian bantuan yang efektif dapat dipelajari  oleh orang awam sekalipun, termasuk oleh para-profesional (Carkhuff, 1969),  dapat dikuasai oleh para siswa SMP (Carr, McDowell and McKee, 1981), para siswa SMA (Carr and Saunders, 1979), bahkan oleh para siswa Sekolah Dasar (Bowman and Myrick, 1981).  Pelatihan konseling sebanya itu sendiri juga dapat merupakan suatu bentuk treatment  bagi para “konselor” sebaya dalam membantu perkembangan psikologis mereka.
3)   Berbagai penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa di kalangan remaja, kesepian atau kebutuhan akan teman merupakan salah satu di antara lima hal yang paling menjadi perhatian remaja. Hubungan pertemanan bagi remaja sering kali menjadi sumber terbesar bagi terpenuhinya rasa senang, dan juga dapat menjadi sumber frustrasi yang paling mendalam. Kenyataan ini menunjukkan bahwa teman memungkinkan untuk saling bantu satu sama lain dengan cara yang unik dan tidak dapat diduga oleh para orang tua dan para pendidik. Para siswa SMA menjelaskan seorang teman sebagai orang yang mau mendengarkan, mau membantu, dan dapat berkomunikasi secara mendalam. Persahabatan ditandai dengan kesediaan untuk dapat saling bantu (dapat menjadi penolong) satu sama lain.
4)   Dasar keempat penggunaan siswa untuk membantu siswa lainnya muncul dari penekanan pada usaha preventif (Albee dan Joffe, 1981) dalam gerakan kesehatan mental dan penerapan konseling preventif (Carr, 1976) dalam setting   sekolah.  Program   prevensi   memiliki   dua   level   tujuan   yaitu:  1) kebutuhan untuk memperkuat (atau imunisasi) siswa dalam menghadapi pengaruh-pengaruh yang membahayakan (melalui pemberian keterampilan pemecahan masalah secara lebih efektif),  dan 2) pada saat yang sama mengurangi insiden faktor-faktor destruktif secara psikologis yang terjadi dalam lingkungan misalnya dengan mengeliminasi lingkungan yang kurang mendukung.
5)   Siswa perlu memiliki kompetensi (menjadi kuat), perlu kecerdasan (bukan akademik, tetapi  memahami suasana), pengambilan peran tanggung jawab (menjadi terhormat) dan harga diri (menjadi bermakna dan dapat dipahami). Para siswa memahami bagaimana kuatnya kebutuhan-kebutuhan tersebut. Sebagian orang tua kurang memahami keadaan ini, sehingga remaja sering kali mencari sesama remaja yang memiliki perasaan sama, mencari teman yang mau mendengarkan, dan bukan untuk memecahkan atau tidak memecahkan problemnya, tetapi mencari orang yang mau menerima dan memahami dirinya.
6)   Suatu issue kunci pada masa remaja adalah kemandirian (independence), tetapi sebagaimana dijelaskan Ivey (1977), adalah suatu hal yang penting bagi orang dewasa untuk memahami kemandirian dalam kaitannya dengan perspektif budaya teman sebaya. Sebagai contoh, Goleman (1980) telah menemukan bahwa bagi remaja laki-laki, independensi  berarti kebebasan dari pengekangan atau pembatasan-pembatasan tertentu. Sedangkan bagi remaja perempuan, independensi berarti suatu kebebasan internal, atau kesempatan untuk menjadi diri sendiri dan kesempatan untuk memiliki beberapa kemandirian yang berkaitan dengan perasaan-perasaan  dan pikiran-pikiran seseorang. Selain itu dari masa ke masa juga terjadi evolusi sosial pada kelompok sebaya.  Para pendidik dan konselor kadang kala kurang sensitif terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada kelompok sebaya.
7)   Secara umum, penelitian-penelitian yang dilakukan tentang pengaruh tutor sebaya (Allen, 1976; Gartner, Kohler and Reissman, 1971) menunjukkan bahwa penggunaan teman sebaya (tutor sebaya) dapat memperbaiki prestasi dan harga diri siswa-siswa lainnya. Beberapa siswa lebih senang belajar dari teman sebayanya.
8)   Peningkatan kemampuan untuk dapat membantu diri sendiri (self-help) atau kelompok yang saling membantu juga merupakan dasar bagi perlunya konseling sebaya. Pada dasarnya, kelompok ini dibentuk oleh sesama teman (sebaya) yang saling membutuhkan dan sering tidak terjangkau atau tidak mau menggunakan layanan-layanan yang disediakan oleh lembaga. Di antara teman sebaya mereka berbagi dan memiliki perhatian yang sama, serta bersama-sama memecahkan problem, menggunakan dukungan dan katarsis sebagai intervensi pemecahan masalah.
9)   Landasan terakhir dari konseling sebaya didasarkan pada suplai dan biaya kerja manusia. Layanan-layanan profesional dari waktu ke waktu terus bertambah, dengan ongkos layanan yang semakin tak terjangkau oleh sebagian remaja. Sementara itu problem remaja terus meningkat dan tidak semua dapat terjangkau oleh layanan formal. Berbagai problem yang dialami remaja perlu disikapi dengan membentuk layanan yang dapat saling bantu di antara remaja itu sendiri. Para siswa (remaja) secara umum lebih banyak tahu dibandingkan dengan orang dewasa ketika remaja lain sedang mengalami masalah, dan dapat lebih akrab serta lebih spontan dalam mengadakan kontak.
Konseling teman sebaya secara kuat menempatkan  keterampilan-keterampilan komunikasi untuk memfasilitasi eksplorasi diri dan pembuatan keputusan. “Konselor” sebaya bukanlah konselor profesional atau ahli terapi. “Konselor” sebaya adalah para siswa (remaja) yang memberikan bantuan kepada siswa lain di bawah bimbingan konselor ahli.  Dalam konseling sebaya, peran dan kehadiran konselor ahli tetap diperlukan. Pada hakikatnya peer counseling adalah counseling through peers.  Dengan demikian “konselor” sebaya bukan pengganti konselor ahli. Kehadiran “konselor” sebaya disiapkan untuk mampu menjadi sahabat yang baik, bukan sebagai mata-mata yang akan mencatat pelanggaran-pelanggaran siswa.  Dalam model konseling teman sebaya, terdapat hubungan Triadik antara Konselor ahli, “konselor” sebaya dan konseli. Hubungan Triadik tersebut dapat digambarkan Gambar 1 pada halaman  11 berikut.


KONSELOR
AHLI


“KONSELOR”
  TEMAN
 SEBAYA



KONSELI
 







Keterangan:          Interaksi antara konselor ahli dengan konseli melalui “konselor” teman sebaya.
                          Interaksi langsung antara konselor ahli dengan konseli atas rujukan “konselor” teman sebaya.
Gambar 1:
Interaksi Triadik antara Konselor Ahli, ”Konselor” Teman Sebaya, dengan ”Konseli” Teman Sebaya (Suwarjo, 2008 : 83)

“Konselor” sebaya terlatih yang direkrut dari jaringan kerja sosial memungkinkan  terjadinya sejumlah kontak yang spontan dan informal. Kontak-kontak yang demikian memiliki multiplying impact pada berbagai aspek dari remaja lainnya. Kontak-kontak tersebut juga dapat memperbaiki atau meningkatkan iklim sosial dan dapat menjadi jembatan penghubung antara konselor profesional dengan para siswa (remaja) yang tidak sempat atau tidak bersedia berjumpa dengan konselor.
Konseling teman sebaya dibangun melalui langkah-langkah sebagai berikut (Suwarjo, 2008 : 199-200):
1. Pemilihan calon ”konselor” teman sebaya. Meskipun keterampilan pemberian bantuan dapat dikuasai oleh siapa saja, faktor kesukarelaan dan faktor kepribadian pemberi bantuan (“konselor” sebaya) ternyata sangat menentukan keberhasilan pemberian bantuan.  Oleh karena itu perlu dilakukan pemilihan calon “konselor” sebaya. Pemilihan didasarkan pada karakteristik-karakteristik hangat, memiliki minat untuk membantu, dapat diterima orang lain, toleran terhadap perbedaan sistem nilai, energik, secara sukarela bersedia membantu orang lain, memiliki emosi yang stabil, dan memiliki prestasi belajar yang cukup baik atau minimal rerata, serta mampu menjaga rahasia. Dengan kriteria tersebut para calon “konselor” sebaya terpilih, kemudian dilatih selama beberapa minggu.
2. Pelatihan calon ”konselor” teman sebaya. Tujuan utama pelatihan “konselor” sebaya adalah untuk meningkatkan jumlah remaja yang memiliki dan mampu menggunakan keterampilan-keterampilan pemberian bantuan. Pelatihan ini tidak dimaksudkan untuk menghasilkan personal yang menggantikan fungsi dan peran konselor. Materi-materi pelatihan yang meliputi keterampilan konseling dikemas dalam modul-modul yang disajikan secara berurutan. Calon ”konselor” teman sebaya dibekali kemampuan untuk membangun komunikasi interpersonal secara baik. Sikap dan keterampilan dasar konseling yang meliputi  kemampuan berempati, kemampuan melakukan attending, keterampilan bertanya, keterampilan merangkum pembicaraan, asertifitas, genuineness, konfrontasi, dan keterampilan pemecahan masalah, merupakan kemampuan-kemampuan yang dibekalkan dalam pelatihan konseling teman sebaya. Penguasaan terhadap kemampuan membantu diri sendiri dan kemampuan untuk membangun komunikasi interpersonal secara baik akan memungkinkan seorang remaja memiliki sahabat yang cukup.
3. Pelaksanaan dan pengorganisasian konseling teman sebaya. Dalam praktiknya, interaksi ”konseling” teman sebaya lebih banyak bersifat spontan dan informal. Spontan dalam arti interaksi tersebut dapat terjadi kapan saja dan dimana saja, tidak perlu menunda. Meskipun demikian prinsip-prinsip kerahasiaan tetap ditegakkan. Interaksi triadik terjadi antara ”konselor” sebaya dengan ”konseli” sebaya, konselor dengan ”konselor” sebaya, dan konselor dengan konseli. Secara periodik (satu bulan sekali atau dua minggu sekali), konselor mengumpulkan para “konselor” sebaya untuk berdiskusi dalam sebuah forum kecil guna berbagai berbagai pengalaman (keberhasilan dan kesulitan) menjadi sahabat yang baik dan memberikan bantuan. Melalui kegiatan ini, kemampuan helping para “konselor” sebaya akan tumbuh. Jika konselor memandang ada keterampilan atau pengetahuan tertentu yang perlu ditambahkan kepada para “konselor” sebaya, konselor dapat mengadakan pelatihan-pelatihan tambahan.

D. Penutup
Sesuai dengan kemampuannya, ”konselor” sebaya diharapkan mampu menjadi sahabat yang baik, yaitu  minimal mampu menjadi pendengar aktif  bagi teman sebayanya yang membutuhkan perhatian. Pendengar yang aktif adalah pendengar yang dengan penuh perhatian memperhatikan isi ungkapan hati teman yang sedang ”curhat”, mampu menangkap ungkapan pikiran dan emosi di balik ekspresi verbal maupun non verbal, mampu mengekspresikan pemahaman dan penerimaan secara tulus dan empatik kepada teman sebayanya, serta mampu memantulkan kembali ekspresi emosi dan pikiran ”konseli” kepada ”konseli”. Jika memungkinkan ”konselor” sebaya juga dapat membantu pemecahan masalah ”sederhana”. Meskipun dilatihkan dalam pelatihan, kemampuan ini tidak begitu dituntutkan. Untuk pemecahan masalah di mana ”konselor” sebaya merasa kurang kompeten, dia diharapkan merujuk ”konseli” kepada konselor ahli. Tentu saja hal tersebut dilakukan atas persetujuan ”konseli”. ”Konselor” sebaya dapat berperan sebagai ”agen” yang mendorong ”konseli” untuk bersedia secara langsung memperoleh layanan dari konselor ahli. Jika ”konseli” sebaya tetap tidak menghendaki bertemu langsung dengan konselor, ”konselor” sebaya dapat berkonsultasi kepada konselor ahli tentang masalah yang dihadapi ”konseli” tanpa menyebutkan identitas ”konseli”. 
Melalui interaksi dan komunikasi interpersonal yang terjadi antara ”konselor” teman sebaya dengan ”konseli” teman sebaya, baik melalui interaksi-interaksi spontan tidak terstruktur, maupun melalui interaksi-interaksi terprogram yang dirancang oleh konselor ahli, siswa (remaja) lain yang berinteraksi dengan konselor sebaya dapat terbantu. Melalui proses modeling misalnya, konseli dapat meniru dan menginternalisasi sikap, keterampilan, dan berbagai strategi tertentu yang tampak dari ”konselor” sebaya pada saat-saat menghadapi masalah atau situasi-situasi adversif. ”Konselor” sebaya juga dapat secara langsung ”mengajarkan” cara-cara menghadapi kesulitan hidup kepada teman sebaya pada saat mereka ”curhat” tentang suatu masalah. Melalui wahana dan cara-cara yang demikian, perkembangan teman-teman sebaya akan terfasilitasi.


DAFTAR PUSTAKA

Carr, R.A. (1981). Theory and Practice of Peer Counseling. Ottawa : Canada Employment and Immigration Commission.

Carter, T. D. (2005). Peer Counseling: Roles, Functions, Boundaries. ILRU Program. [Online]. Tersedia: http://www.peercounseling.com. Akses 12 September 2006.

Cowie, H., dan Wallace, P. (2000). Peer Support in Action: From Bystanding to Standing By. London : Sage Publications.

Glading, S.T. (1995). Group Work : A Counseling Specialty. Englewood Cliffs : Prentice-Hall.
Kan, P.V. (1996). Peer Counseling in Explanation. [Online]. Tersedia: http://www.peercounseling.com. Akses 22 Agustus 2006.

Laursen, E.K. (2005). Rather Than Fixing Kids - Build Positive Peer Cultures. Reclaiming Children and Youth. 14. (3). 137 – 142. (ProQuest Education Journals).

Muro, J.J., and Kottman, T. (1995). Guidance and Counseling in the Elementary and Middle Schools : A Practical approach. Madison : Brown & Benchmark.

Nickerson, A.B. & Nagle, R.J. (2005). Parent and Peer Attachment in Late Childhood and Early Adolescence. Journal of Early Adolescence. 25. (2). 223-249.  Sage Publications

Santrock, J.W. (2009). Life-Span Development. Twelfth Edition. Boston : McGraw-Hill Companies.

Santrock, J.W. (2004). Life-Span Development. Ninth Edition. Boston : McGraw-Hill Companies.

Steinberg,  Laurance. (1993). Adolescence. New York :  Mc.  Graw-Hill, Inc.

Suwarjo, (2008). Model Konseling Teman Sebaya Untuk Pengembangan Daya Lentur (Resilience): Studi Pengembangan Model Konseling Teman Sebaya untuk Mengembangkan Daya Lentur Remaja Panti Sosial Asuhan Anak Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Disertasi Universitas Pendidikan Indonesia. Tidak Diterbitkan.

Tindall, J.D. and Gray, H.D. (1985). Peer Counseling: In-Depth Look At Training Peer Helpers. Muncie : Accelerated Development Inc.

0 komentar:

Post a Comment

Search

Pembayaran KKL Prodi BK Tahun 2017

Pembayaran KKL Prodi BK Tahun 2017
Skema Pembayaran KKL 2017

Form Pengajuan Judul Skripsi

Agenda

Agenda

Informasi Akademik Terbaru

Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling

Hari: Sabtu, 6 Agustus 2016
Pembicara :
1. Drs. Nasruddin (Dirjen PAUD Dikmas)
2. Dr. Muh Farozin, M.Pd (Ketua Program Studi BK Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta)
3. Dr. Santoso, M.Pd. (Koordinator CYLIN UMK dan Sekretaris Program Pascasarjana S2 Pendidikan Dasar Universitas Muria Kudus)

Artikel Terpopuler

Arsip Berita

Powered by Blogger.

Download

Materi Kuliah Perdana (5 Maret 2014) Oleh: Dr. Adi Atmoko, M.Si