13 Sep 2012

KOMPETENSI LINTAS BUDAYA DALAM PELAYANAN KONSELING


Oleh:
Dra.Sumarwiyah, M Pd
Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Muria Kudus

                                                         Abstrak
             Kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat, suatu budaya tertentu akan mempengaruhi kehidupan masyarakat tertentu (walau bagaimanapun kecilnya). Dalam pengertian budaya, ada tiga elemen yaitu:1.  Merupakanproduk budidaya manusia, 2.  Menentukan ciri seseorang, 3.  Manusia tidak akan bisa dipisahkan dari budayanya.
Konseling merupakan suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkembangn dirinya,dan untuk mencapai perkembangan yang optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya ,proses tersebuat dapat terjadi setiap waktu.Konseling meliputi  dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan, motivasi, dan potensi-potensi yang yang unik dari individu untuk mengapresiasikan ketiga hal tersebut  .  
            Konseling lintas budaya melibatkan konselor dan klien yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, dan karena itu proses konseling sangat rawan oleh terjadinya bias-bias budaya pada pihak konselor yang mengakibatkan konseling tidak berjalan efektif. Agar berjalan efektif, maka konselor dituntut untuk memiliki kepekaan budaya dan melepaskan diri dari bias-bias budaya, mengerti dan dapat mengapresiasi diversitas budaya, dan memiliki keterampilan-keterampilan  yang responsive secara kultural. Dengan demikian, maka konseling dipandang sebagai “perjumpaan budaya” (cultural encounter) antara konselor dan klien 
Keterampilan konselor lintas budaya harus selalu mengembangkan keterampilan untuk berhubungan dengan individu yang berasal dari latar belakang etnis yang berbeda. Dengan banyaknya berlatih untuk berhubungan dengan masyarakat luas, maka konselor akan mendapatkan keterampilan (perilaku) yang sesuai dengan kebutuhan. Untuk menunjang pelaksanaan konseling lintas budaya dibutuhkan konselor yang mempunyai spesifikasi.   kompetensi kesadaran, pengetahuan dan keterampilan


Kata kunci : Konseling ; lintas budaya



            Budaya berarti buah budi manusia, adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh yang kuat, yakni alam dan jaman (kodrat dan masyarakat), dalam mana terbukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai bagai  rintangan dan kesukaran didalam hidup penghidupannya, guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan, yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.
            Pendapat Ki Hajar Dewantara diperkuat oleh Soekanto (1997) dan Ahmadi (1996) yang mengarahkan budaya dari bahasa sanskerta yaitu buddhayah yang merupakan suatu bentuk jamak kata "buddhi" yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai hal hal yang bersangkutan dengan budi atau akal". Lebih ringkas, Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, mendefinisikan kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat
Dari definisi di atas, tampak bahwa suatu budaya tertentu akan mempengaruhi kehidupan masyarakat tertentu (walau bagaimanapun kecilnya). Dalam pengertian budaya, ada tiga elemen yaitu:
1.  Merupakanproduk budidaya manusia,
2.  Menentukan ciri seseorang,
3.  Manusia tidak akan bisa dipisahkan dari budayanya.
             Sifat budaya ada dua, yaitu budaya yang bersifat universal (umum) dan budaya yang khas (unik). Budaya universa! mengandung pengertian bahwa nilai nilai yang dimiliki oleh semua lapisan masyarakat. Nilai nilai ini dijunjung tinggi oleh segenap manusia. Dengan demikian, secara umum umat manusia yang ada dunia ini memiliki kesamaan nilai nilai tersebut. Contoh   nilai universal ini antara lain manusia berhak menentukan hidupnya sendiri, manusia antidengan peperangan, manusia mementingkan perdamaian, manusia mempunyai kebabasan dan lain lain.
            Nilai budaya yang khas (unik) adalah suatu nilai yang dimiliki oleh bangsa tertentu. Lebih dari itu, nilai- nilai ini hanya dimiliki oleh masyarakat atau suku/ etnis tertentu dimana keunikan ini berbeda dencan kelompok atau bangsa lain.
Keunikan nilai ini dapat meniadi barometer untuk mengenal bangsa atau kelompok tertentu.
Nilai budaya yang dianut oleh masyarakat tertentu pada umumnya dianggap mutlak kebenarannya. Hal ini tampak pada perilaku yang ditampakkan oleh anggota masyarakat itu. Mereka mempunyai keyakinan bahwa apa yang dianggap benar itu dapat dijadikan panutan dalam menjalani hidup sehari hari. Selain itu, nilai budaya yang diyakini kebe¬narannya tersebut dapat dipergunakan untuk membantu menyelesaikan masalah yang timbul. Dengan kata lainbahwa nilai budaya tertentu yang ada dalam suatu masyarakat mempunyai suatu cara tersendiri untuk memecahkan permasa¬lahan yang timbul dalam anggota masyarakat tersebut (Lee & Sirch, 1994).
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar, yang multi etnis. Dengan demikian sangat banyak nilai-nilai unik yang ada di dalam etnis bangsa Indonesia. Tiap daerah mempunyai nilai nilai
            Tokoh pendidikan nasional bapak Ki Haiar Dewantara (1977) memberikan definisi budaya sebagai berikut: Budaya berarti buah budi manusia, adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh yang kuat, yakni alam dan jaman (kodrat dan masyarakat), dalam mana terbukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai bagal rintangan dan kesukaran didalam hidup penghidupannya, guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan, yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.
Pendapat Ki Hajar Dewantara diperkuat oleh Soekanto (1997) dan Ahmadi (1996) yang mengarahkan budaya dari bahasa sanskerta yaitu buddhayah yang merupakan suatu bentuk jamak kata "buddhi" yang berarti budi atau akal. Kebudayaan diartikan sebagai hal hal yang bersangkutan dengan budi atau akal". Lebih ringkas, Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, mendefinisikan kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Dari definisi di atas, tampak bahwa suatu budaya tertentu akan mempengaruhi kehidupan masyarakat tertentu (walau bagaimanapun kecilnya). Dalam pengertian budaya, ada tiga elemen yaitu:
1.    Merupakan produk budidaya manusia,
2.    Menentukan ciri seseorang,
3.    Manusia tidak akan bisa dipisahkan dari budayanya.

III.  Pengertian Konseling
            Konseling merupakan suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkembangn dirinya,dan untuk mencapai perkembangan yang optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya ,proses tersebuat dapat terjadi setiap waktu. (Division of Conseling Psychologi). Konseling meliputi pemahaman dan hubungan individu untuk mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan, motivasi, dan potensi-potensi yang yang unik dari individu dan membantu individu yang bersangkutan untuk mengapresiasikan ketiga hal tersebut. (Berdnard & Fullmer ,1969) Dalam pengertian konseling terdapat empat elemen pokok yaitu:
1.    adanya hubungan,
2.    adanya dua individu atau lebih,
3.    adanya proses,
4.    membantu individu dalam memecahkan masalah dan membuat keputusan.

IV.  Konsep Konseling Lintas Budaya
           Isu-isu tentang antar atau lintas budaya yang disebut juga multibudaya meningkat dalam dekade 1960-an, yang selanjutnya melatari kesadaran bangsa Amerika pada dekade 1980-an. Namun, rupanya kesadaran itu disertai dengan kemunculan kembali sikap-sikap rasialis yang memecahbelah secara meningkat pula (Hansen, L. S., 1997:41). Hal ini menjelaskan pandangan, bahwa dibutuhkan pendekatan baru untuk kehidupan pada abad-21, baik yang melingkup pendidikan bagi orang biasa maupun profesional dalam bidang lintas serta keragaman budaya. Pendidikan yang dimaksud hendaknya menegaskan dimensi-dimensi keragaman dan perbedaan. Dengan kata lain, kecenderungan pendidikan yang berwawasan lintas budaya sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia abad-21.
            Dalam bidang konseling dan psikologi, pendekatan lintas budaya dipandang sebagai kekuatan keempat setelah pendekatan psikodinamik, behavioral dan humanistik (Paul Pedersen, 1991). Suatu masalah yang berkaitan dengan lintas budaya adalah bahwa orang mengartikannya secara berlain-lainan atau berbeda, yang mempersulit untuk mengetahui maknanya secara pasti atau benar. Dapat dinyatakan, bahwa konseling lintas budaya telah diartikan secara beragam dan berbeda-beda; sebagaimana keragaman dan perbedaan budaya yang memberi artinya.
Definisi-definisi awal tentang lintas budaya cenderung untuk menekankan pada ras, etnisitas, dan sebagainya; sedangkan para teoretisi mutakhir cenderung untuk mendefinisikan lintas budaya terbatas pada variabel-variabelnya (Sue dan Sue, 1990). Namun, argumen-argumen yang lain menyatakan, bahwa lintas budaya harus melingkupi pula seluruh bidang dari kelompok-kelompok yang tertindas, bukan hanya orang kulit berwarna, dikarenakan yang tertindas itu dapat berupa gender, kelas, agama, keterbelakangan, bahasa, orientasi seksual, dan usia (Trickett, Watts, dan Birman, 1994)
            Konseling lintas budaya melibatkan konselor dan klien yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, dan karena itu proses konseling sangat rawan oleh terjadinya bias-bias budaya pada pihak konselor yang mengakibatkan konseling tidak berjalan efektif. Agar berjalan efektif, maka konselor dituntut untuk memiliki kepekaan budaya dan melepaskan diri dari bias-bias budaya, mengerti dan dapat mengapresiasi diversitas budaya, dan memiliki keterampilan-keterampilan yang responsif secara
kultural. Dengan demikian, maka konseling dipandang sebagai “perjumpaan budaya” (cultural encounter) antara konselor dan klien (Dedi Supriadi, 2001:6).

Maka konseling lintas budaya akan dapat terjadi jika antara konselor dan klien mempunyai perbedaan. Kita tahu bahwa antara konselor dan klien pasti mempunyai perbedaan budaya yang sangat mendasar. Perbedaan budaya itu bisa mengenai nilai-nilai, keyakinan, perilaku dan lain sebagainya. Perbedaan ini muncul karena antara konselor dan klien berasal dari budaya yang berbeda. Konseling lintas budaya akan dapat terjadi jika konselor kulit putih memberikan layanan konseling kepada klien kulit hitam atau konselor orang Batak memberikan layanan konseling pada klien yang berasal dari Ambon.
            Layanan konseling lintas budaya tidak saja terjadi, pada mereka yang berasal dari dua suku bangsa yang berbeda. Tetapi layanan konseling lintas dapat pula muncul pada suatu suku bangsa yang sama. Sebagai contoh, konselor yang berasal dari jawa Timur memberikan layanan konseling pada klien yang berasal dari jawa tengah, mereka sama sama berasal dari suku atau etnis jawa. Tetapi perlu kita ingat, ada perbedaan mendasar antara orang jawa Timur dengan orang Jawa Tengah. Mungkin orang Jawa Timur lebih terlihat "kasar", sedangkan orang jawa Tengah lebih "halus".

Konselor perlu menyadari akan nilai-nilai yang berlaku secara umum. Kesadaran akan nilai-nilai yang berlaku bagi dirinya dan masyarakat pada umumnya akan membuat konselor mempunyai pandangan yang sama tentang sesuatu hal. Persamaan pandangan atau persepsi ini merupakan langkah awal bagi konselor untuk melaksanakan konseling.
Sebagai rangkuman dari apa yang telah dijelaskan di atas, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kaitannya dengan konseling lintas budaya. Menurut Pedersen (1980) dinyatakan bahwa konseling lintas budaya memiliki tiga elemen yaitu:
khas yang sangat dijunjung tinggi oleh kelompok masyarakatnya.
         Kompetensi yang dikehendaki
Untuk menunjang pelaksanaan konseling lintas budaya dibutuhkan konselor yang mempunyai spesifikasi. tertentu. Pedersen (dalam Mcrae & jhonson) menyatakan bahwa konselor lintas budaya harus mempunyai kompetensi kesadaran, pengetahuan dan keterampilan.
            Kesadaran, konselor lintas budaya harus benar benar mengetahui adanya perbedaan yang mendasar antara konselor dengan klien yang akan dibantunya. Selain itu, konselor harus menyadari benar akan timbulnya konflik jika konselor memberikan layanan konseling kepada klien yang berbeda latar belakang sosial budayanya.
Hal ini menimbulkan konsekuensi bahwa konselor lintas budaya harus mengerti dan memahami budaya di Indonesia, terutama nilai nilai budaya yang dimilikinya. Sebab bukan tidak mungkin macetnya proses konseling hanya karena  konselor tidak mengetahui dengan pasti nilai nilai apa yang dianutnya. Dengan demikian, kesadaran akan nilai nilai yang dimiliki oleh konselor dan nilai nilai yang dimiliki oleh klien, akan dapat dijadikan landasan untuk melaksanakan
konseling.                                                 
             Pengetahuan, konselor lintas budaya sebaiknya terus mengembangkan pengetahuannya mengenai budaya yang ada di  Indonesia. Pengetahuan yang perlu dimiliki oleh konselor lintas budaya adalah sisi sosio politik dan susio budaya dari kelompok etnis tertentu. Semakin banyak latar belakang etnis yang dipelajari oleh konselor, maka semakin baragam pula masalah klien yang dapat ditangani. Pengetahuan konselor terhadap nilai nilai budaya yang ada di masyarakat
tidak saja melalui membaca buku atau hasil penelitian saja, tetapi dapat pula dilakukan dengan cara melakukan  penelitian itu sendiri. Hal ini akan semakin mempermudah konselar untuk menambah pengetahuan mengenai suatu budaya tertentu.
             Keterampilan, konselor lintas budaya harus selalu mengembangkan keterampilan untuk berhubungan dengan individu yang berasal dari latar belakang etnis yang berbeda. Dengan banyaknya berlatih untuk berhubungan dengan masyarakat luas, maka konselor akan mendapatkan keterampilan (perilaku) yang sesuai dengan kebutuhan. Misal,
konselor banyak berhubungan dengan orang jawa, maka konselor akan belaiar bagaimana berperilaku sebagaimana orang Jawa. jika konselor sering berhubungan dengan orang Minangkabau, maka konselor akan belajar bagaimana  orang Minangkabau berperilaku.
Tiga kompetensi di atas wajib dimiliki oleh konselor lintas budaya. Sebab dengan dimilikinya ketiga kamampuan itu, akan semakin mempermudah konselor untuk bisa berhubungan dengan klien yang berbeda latar belakang budaya
         Sementara itu menurut konselingindonesia  2012  
Kompetensi Linyas budaya meliputi; a). Kesadaran nilai-nilai bias budaya, b). Kesadaran konselor terhadap  pandangan klien, c). Strategi intervensi yang cocok berdasarkan kebudayaan
A.   Kesadaran nilai-nilai bias kebudayaan
a.  Sikap dan Keyakinan
                                                                                       
       diwarisinya, menilai dan menghargai perbedaan
  1. Konselor  sadar bahwa latar belakang kebudayaan yang dimilikinya, pengalaman sikap,  
Nilai, dan bias mempengaruhi proses psikologis
3.    Konselor  mampu mengenali batas kemampuan dan keahliannya
4.    Konselor  merasa nyaman dengan perbedaan yang ada antara dirinya dan  klien   dalam       bentuk ras, etnik, kebudayaan, dan kepercayaan
b. Pengetahuan
1.  Konselor  memiliki pengetahuan tentang ras dan kebudayaannya sendiri dan  
     bagaimana hal tersebut mempengaruhi secara personal dan profesional pandangannya tentang normal dan abnormal dan proses dalam konseling
2.  Konselor  mengetahui dan memahami bahwa tekanan, ras, diskriminasi, dan stereotipe  mempengaruhi mereka secara personal dan dalam pekerjaannya.
3.  Konselor  mengetahui  dampak sosialnya terhadap orang lain. Pengetahuan mereka tentang
    perbedaan komunikasi, bagaimana gaya komunikasi ini mungkin akan menimbulkan       
   perselisihan atau membantu perkembangan dalam proses konseling pada klien minoritas, dan bagaimana cara mengantisipasi dampak yang mungkin terjadi pada orang lain
c.  Keterampilan
1.   Konselor  mencari: pendidikan, konsultasi, dan pengalaman pelatihan untuk memperbaiki
      Pemahaman dan keefektifan dalam bekerja dengan populasi dari budaya yang berbeda.   
      Mengenali keterbatasan, mereka:
      a).  mencari  konsultasi,
      b).  mencari pelatihan dan pendidikan lebih lanjut,
      c).  menjadi individu yang berkualifikasi atau berwawasan  atau
      d).  kombinasi dari ketiganya
2.   Konselor  secara konsisten mencari pemahaman terhadap diri mereka sebagai ras
      dan kebudayaan dan secara aktif mencari identias non-ras
B. Kesadaran Konselor terhadap Pandangan Klien
a. Sikap dan Keyakinan
    1.  Konselor  sadar bahwa reaksi emosional yang negatif terhadap ras lain dan     
         kelompok etnik yang bias menggangu klien dalam konseling. Mereka hendaknya
         mempertentangkannya antara sikap dan keyakinan mereka dengan sikap dan keyakinan
         klien dengan cara yang tidak memberikan penilaian.
b. Pengetahuan
     1.  Konselor  memiliki pengetahuan dan informasi yang spesifik tentang 
          kelompok yang diajak bekerja sama.
          Mereka menyadari pengalaman, kebudayaan yang diwariskan, latar belakang sejarah klien
          dari kebudayaan yang  berbeda
          BK | Bimbingan dan Konseling Indonesia | Pusat Referensi Konseling |
          http://konselingindonesia.com Menggunakan Joomla! Generated: 7 May, 2012, 21:16
     2.  Konselor yang handal memahami bagaimana ras, kebudayaan, etnik, dsb mungkin  
          mempengaruhi struktur kepribadian, pilihan karir, manifestasi gangguan,  
          psikologis,perilaku mencari bantuan, dan kecocokan dan ketidakcocokan dari  
          pendekatan  konseling
mempengaruhi yang bergeseran dengan kehidupan ras, etnik minoritas. Isu imigrasi, kemiskinan, rasisme, stereotipe, dan ketidakberdayaan semuanya meninggalkan kesan buruk yang mungkin mempengaruhi proses konseling
c.  Keterampilan
1.   Konselor  seharusnya terbiasa dengan penelitian yang relevan dan penemuan
      terbaru mengenai kesehatan mental dan gangguan mental dari berbagai kelompok etnik
      dan ras.
      2.   Konselor  menjadi aktif terlibat dengan individu yang berasal dari luar setting  
            konseling (even komunitas, fungsi sosial dan politik, perayaan, pertemanan, bertetangga,
            dsb) sehingga perspektif mereka mengenai kaum minoritas tidak hanya sekedar akademik
            atau pelatihan saja.
C. Strategi Intervensi yang Cocok Berdasarkan Kebudayaan
a. Sikap dan Keyakinan
     1.  Konselor  menghargai agama, keyakinan dan nilai yang dimiliki oleh klien, termasuk    
          atribut dan hal-hal  yangbersifat tabu, karena hal tersebut mempengaruhi kemenduniaan
          pandangan mereka, fungsi psikososial, dan eksresi  terhadap stress         
    2.   Konselo  menghargai ketulusan pertolongan dan menghargai jaringan  pertolongan
          instrinsik kaum minoritas
          sebagai penghalang dalam konseling (monolingual sebagai penjahat)
b. Pengetahuan
    1.   Konselor  memiliki pengetahuan yang jelas dan eksplisit dan memahami karakteristik
          umum dari konseling dan terapi (batasan dalam budaya, batasan dalam kelas, dan   
          monolungual) dan bagaimana mereka memiliki pertentangan dengan nilai kebudayaan dari
          berbagai kelompok minoritas lainnya
     2.  Konselor menyadari hambatan instistusional yang menghambat kaum  minoritas dalam
          Mendapatkan pelayanan kesehatan mental
Penggunaan  prosedur dan interpretasi yang ditemukan dalam budaya dan karakteristik bahasa dari klien
      Mereka memiliki pengetahuan yang cukup mengenai karakteristik komunitas dan
      sumber-sumber komunitas seperti keluarga
      mempengaruhi kesejahteraan psikologis pada populasi yang diberikan pelayanan
c. Keterampilan
     1.   Konselor  mampu memberikan respon berupa verbal maupun nonverbal  dalam
           memberikan pertolongan. Mereka mampu memberikan dan menerima kedua pesan
           tersebut secara tepat dan akurat
     2.   Konselor  mampu melatih keterampilan intervensi institusi pada klien pada umumnya.
           Mereka dapat  memahami apakah akar permasalahan adalah rasisme atau bias diantara
           mereka (konsep  paranoid) sehingga klien tidak salah dalam mengenali permasalahannya
tidak mungkin untuk dilakukan maka mengalihkan kepada yang lain. Permasalahan yang serius akan muncul apabila bahasa konselor tidak cocok dengan bahasa klien. Dalam kasus ini, konselor sebaiknya a) mencari penterjemah dengan pengetahuan  tentang budaya dan latar belakang professional yang sesuai, dan b). mengalihtangankan pada konselor yang lebih berkompeten dan berpengetahuan dalam dwi bahasa
tidak hanya sekedar mampu menggunakan tetapi mereka juga menyadari keterbatasan kebudayaan.
pendiskriminasian
psikologis, seperti tujuan, harapan, hak-hak, dan orientasi konselor
          BK | Bimbingan dan Konseling Indonesia | Pusat Referensi Konseling |
          http://konselingindonesia.com Menggunakan Joomla! Generated: 7 May, 2012, 21:16                 


VI. Referensi

     Ahmadi, Abu. 1986. Antropologi Budaya: mengenal kebudayaan dan suku-suku bangsa di   
              Indonesia. Surabaya: Pelangi.

    BK | Bimbingan dan Konseling Indonesia | Pusat Referensi Konseling |
             http://konselingindonesia.com Menggunakan Joomla! Generated: 7 May, 2012, 2
   
    Carter, RT. 1991. Cultural Values: a review of empirical research and implications for   
             counseling. Journal of Counseling & Development. 70: 164-173.

    Dewantara, KH. 1977. Pendidikan 9(cetakan kedua). Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan
             Taman Siswa.

    Menanti, Asih. 2005. Konseling Indigenous. Makalah disampaikan pada Konvensi Nasional
             ABKIN di Bandung 2005.

    Prayitno. 1987. Profesionalisasi Konseling dan Pendidikan Konselor. Jakarta: Depdikbud.

    Rosjidan. 1994. Proses dan Teknik Konseling yang Memperhatikan Budaya Setempat.
             Pendidik Konselor. 4 Juni, h. 17-22.
  
    -----------. 1995. Pengembangan Bimbingan dan Konseling dengan Budaya Nasional: rintisan.
            Makalah disampaikan dalam Kongres VIII dan Konvensi nasional X IPBI di Surabaya.

    Sudarmaji, Boy. 2012. Konseling Lintas Budaya. http : //Konseling Indonesia.com

   . Vontress, Clemmont 2002. Online Readings in Psychology and Culture (Unit 10, Chapter 1),
           (http://www.wwu.edu/~culture). Diakses tanggal 20 Mei 2007.


0 komentar:

Post a Comment

Search

INFORMASI PEMBAYARAN KMD

INFORMASI PEMBAYARAN KMD

Form Pengajuan Judul Skripsi 2017/2018

Agenda

Agenda

Informasi Akademik Terbaru

Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling

Hari: Sabtu, 6 Agustus 2016
Pembicara :
1. Drs. Nasruddin (Dirjen PAUD Dikmas)
2. Dr. Muh Farozin, M.Pd (Ketua Program Studi BK Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta)
3. Dr. Santoso, M.Pd. (Koordinator CYLIN UMK dan Sekretaris Program Pascasarjana S2 Pendidikan Dasar Universitas Muria Kudus)

Artikel Terpopuler

Arsip Berita

Powered by Blogger.

Download

Materi Kuliah Perdana (5 Maret 2014) Oleh: Dr. Adi Atmoko, M.Si