25 Jul 2012

KELUARGA: PEMBENTUK KARAKTER BANGSA



Drs. Susilo Rahardjo, M.Pd. [1]

A. AWAL KATA
Drs. Susilo Rahardjo, M.Pd.
Reformasi Mei 1998 menandai berakhirnya masa kejayaan Orde Baru yang berlangsung + 30 tahun. Pemerintahan orde baru yang mapan dengan pembangunan di segala bidang yang terencana melalui GBHN –Garis-garis Besar Haluan Negara, sontak hancur lebur. Kebangkitan Nasional yang ke-90 merupakan awal gerakan Reformasi Indonesia ditandai dengan didudukinya gedung DPR/MPR Senayan oleh para mahasiswa. Euforia reformasi memporakporandakan gedung dengan segala isinya. Dokumen-dokumen bersejarah menjadi “korban” reformasi, dihancurkan dan dibakar.
Sejak itulah berbagai tayangan televisi dan gambar di berbagai media cetak menggambarkan perilaku bangsa Indonesia menjadi tanpa kendali. Berbagai hal yang tidak sepaham sering diakhiri dengan perilaku beringas dan anarkis. Karakter bangsa yang selama ini dikenal santun hilang tidak berbekas.
Fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara yang sudah diletakkan dengan susah payah oleh para pendiri bangsa melalui Proklamasi 17 Agustus 1945 dengan “bebanten” darah, harta, dan nyawa; yang kemudian dilanjutkan dengan mengisi kemerdekaan  pembangunan di segala bidang kehidupan dengan biaya utang luar negeri yang belum pernah habis sejak kakek nenek kita sampai entah kapan, dan telah menguras bumi kita dengan berbagai isinya, berubah drastis dalam waktu sekejap.
Reformasi di segala bidang telah mencabik-cabik nilai-nilai kemanusiaan. Atas nama demokrasi dan pembaharuan, sangat mahal harga yang harus dibayar bangsa ini. Namun kita harus bertekad tidak akan mundur ke masa orde baru, apalagi mundur ke orde lama dan sebelumnya. Reformasi yang sudah berjalan harus tetap berjalan dengan penuh keyakinan bahwa pada suatu saat akan tiba masanya bangsa Indonesia menjadi “lebih cerdas” dalam berperilaku dan cita-cita sebagaimana termaktub dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 bukan hanya impian belaka.
Kita harus yakin bahwa akan tiba masanya negara kita tercinta Indonesia benar-benar gemah ripah loh jinawi tata tentrem karta raharja, baldatun thoyyibatun warabbun ghafur, manakala kita terus berupaya dan berjuang tanpa lelah sehingga menjadi bangsa yang besar. Salah satu upaya yang dimungkinkan untuk menjadi bangsa yang besar adalah melalui pendidikan. Jepang yang hancur lebur pada Perang Dunia II melalui Restorasi Meiji yang bertumpu pada bidang pendidikan, sudah demikian maju, dan mereka terus melakukan pembaruan kebijakan pendidikannya yang sejak tahun 2001 meluncurkan Rainbow Plan (Ramli, 2008), dan inilah isinya:
1.      Mengembangkan kemampuan dasar scholastic siswa dalam model pembelajaran yang menyenangkan. Ada 3 pokok arahan yaitu, pengembangan kelas kecil terdiri dari 20 anak per kelas, pemanfaatan IT dalam proses belajar mengajar, dan pelaksanaan evaluasi belajar secara nasional
2.      Mendorong pengembangan kepribadian siswa menjadi pribadi yang hangat dan terbuka melalui aktifnya siswa dalam kegiatan kemasyarakatan, juga perbaikan mutu pembelajaran moral di sekolah
3.      Mengembangkan lingkungan belajar yang menyenangkan dan jauh dari tekanan, diantaranya dengan kegiatan ekstra kurikuler olah raga, seni, dan sosial lainnya.
4.      Menjadikan sekolah sebagai lembaga yang dapat dipercaya oleh orang tua dan masyarakat.  Tujuan ini dicapai dengan menerapkan sistem evaluasi sekolah secara mandiri, dan evaluasi sekolah oleh pihak luar, pembentukan school councillor, komite sekolah yang beranggotakan orang tua, dan pengembangan sekolah berdasarkan keadaan dan permintaan masyarakat setempat.
5.      Melatih guru untuk menjadi tenaga professional, salah satunya dengan pemberlakuan evaluasi guru, pemberian penghargaan dan bonus kepada guru yang berprestasi, juga pembentukan suasana kerja yang kondusif untuk meningkatkan etos kerja guru, dan pelatihan bagi guru yang kurang cakap di bidangnya.
6.      Pengembangan universitas bertaraf internasional
7.      Pembentukan filosofi pendidikan yang sesuai untuk menyongsong abad baru, melalui reformasi konstitusi pendidikan (kyouiku kihon hou)

Nah, mestikah kita malu untuk melakukan reformasi pendidikan untuk pengembangan menjadi bangsa yang bermartabat? Jalan ke sana sudah dibuka oleh pemerintah melalui anggaran pendidikan sebesar 20% setahun dari APBN kita. Dengan kesungguhan hati yang dilandasi kebersamaan dalam bingkai bhinneka tunggal ika kita pun pasti bisa, tinggal tunggu waktu.

B. MAKNA PENDIDIKAN
Banyak kalangan memberikan makna tentang pendidikan sangat beragam, bahkan sesuai dengan pandangannya masing-masing. Azyumardi Azra sebagaimana dikutip oleh Nurokhim (2007) memberikan pengertian tentang “pendidikan” sebagai suatu proses di mana suatu bangsa mempersiapkan generasi mudanya untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien. Bahkan ia menegaskan, bahwa pendidikan lebih dari sekedar pengajaran, artinya, bahwa pendidikan adalah suatu proses di mana suatu bangsa atau negara membina dan mengembangkan kesadaran diri di antara indidivu-individu.
Pandangan Azra di atas menyiratkan peran bangsa atau negara dalam pendidikan. Kelangsungan hidup suatu bangsa atau negara tergantung dari bagaimana para pemimpin bangsa atau negara ini mempersiapkan generasi mudanya. Kiranya tidak berlebihan, jika berbagai upaya pemerintah Republik Indonesia sejak merdeka, Orde Lama dinamika Demokrasi Terpimpin dan Nasakomnya, Orde Baru dengan Pelitanya (Pembangunan Lima Tahun) sampai dengan Orde Reformasi dianggap sebagai upaya negara dalam mendidik bangsanya dalam arti luas, yaitu pendidikan melalui berbagai jalur kehidupan yang paling tidak mencakup Ideologi, Politik, Ekonomi, Sosial Budaya, Pertahanan dan Keamanan.
Semua upaya bangsa dan negara tersebut merupakan upaya pendidikan yang bukan sekedar pengajaran “di sekolah”. Berbagai upaya pendidikan tersebut dimaksudkan agar setiap individu (warga negara) mampu mengembangkan dirinya agar dapat hidup sejahtera, dan mengambil peran dalam kehidupan masyarakat dunia.
Menurut Prayitno (2009), pendidikan merupakan wahana bagi pengembangan manusia. Pendidikan menjadi media bagi pemuliaan kemanusiaan manusia yang tercermin di dalam harkat dan martabat manusia dengan hakikat manusia, dimensi kemanusiaan dan pancadayanya. Pendidikan seperti ini dilaksanakan oleh manusia dan untuk manusia, serta hanya terjadi di dalam hubungan antarmanusia.
Pandangan Prayitno di atas selanjutnya dijelaskan sebagai berikut, harkat dan martabat manusia membedakan manusia dengan makhluk lainnya karena pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan yang Maha Esa, makhluk yang paling indah dan sempurna dalam penciptaan dan pencitraannya, makhluk yang paling tinggi derajatnya, khalifah di muka bumi, dan pemilik hak azasi manusia.
Setiap individu sejak kelahirannya sudah membawa bekal hakikat manusia tersebut di atas yang dalam pengembangan diri dan kehidupan selanjutnya dilengkapi lima dimensi kemanusiaan yaitu dimensi kefitrahan, dimensi keindividualan, dimensi kesosialan, dimensi kesusilaan, dan dimensi keberagamaan. Kelima dimensi tersebut merupakan satu kesatuan, saling terkait dan berpengaruh. Kelimanya pada dasarnya menyatu, berdinamika dan bersinergi sejak wal kehidupan individu, dalam perkembangan dirinya dari waktu ke waktu, sampai akhir kehidupannya. Kelimanya menuju kepada perkembangan individu menjadi “manusia seutuhnya”. Untuk memungkinkan perkembangan individu ke arah yang dimaksud itu manusia dikaruniai oleh Sang Maha Pencipta lima jenis bibit pengembangan yang disebut pancadaya, yaitu daya taqwa, daya cipta, daya karsa, daya rasa, dan daya karya.
Pancadaya yang merupakan potensi dasar kemanusiaan itulah yang menjadi isi hakiki kekuatan pengembangan keseluruhan dimensi kemanusiaan. Dalam kajian dewasa ini, pancadaya sering dimanifestasikan sebagai kemampuan dasar yang disebut sebagai inteligensi spiritual, inteligensi rasional, inteligensi sosial, inteligensi emosional, dan inteligensi instrumental.
Pencapaian manusia seutuhnya melalui proses pendidikan hanya mungkin dilakukan oleh manusia untuk manusia, yaitu oleh manusia dewasa yang dengan ikhlas dan kesungguhan hati menuntun dan mengantarkan manusia muda untuk mampu dan mencapai perkembangan dirinya secara optimal, manusia mulia yang bermartabat. Perkembangan manusia muda sebagai peserta didik menjadi manusia dewasa yang mulia dan bermartabat hanya bisa terjadi dalam hubungan antarmanusia, di mana pendidik dan peserta didik saling berinteraksi dalam suasana pendidikan yang memandirikan.
Satmoko (1999) merumuskan hakikat pendidikan adalah sebagai berikut:
(1)    Pendidikan adalah pertolongan atau pengaruh yang diberikan seseorang yang bertanggung jawab kepada anak agar menjadi dewasa. Pendidikan adalah kehidupan bersama satu kesatuan tritungal ayah, ibu dan anak, di mana terjadi pemanusiaan anak, melalui proses pemanusiaan diri sampai menjadi manusia “purnawan”.
(2)   Pendidikan berarti pemasukan anak ke dalam alam budaya, atau juga masuknya alam budaya ke dalam anak. Pendidikan merupakan hidup bersama dalam kesatuan tritunggal ayah-ibu-anak, di mana terjadi pembudayaan anak, melalui suatu proses sehingga akhirnya bisa membudaya sendiri sebagai manusia “purnawan”.
(3)   Pendidikan adalah hidup bersama dalam kesatuan tritunggal ayah-ibu-anak, di mana terjadi pelaksanaan nilai-nilai, dengan melalui proses akhirnya dia bisa melaksanakan sendiri sebagai manusia “purnawan”.

Menurut hemat penulis pengertian pendidikan tersebut memuat unsur-unsur ayah-ibu-anak sebagai subjek pendidikan, di mana ayah dan ibu melakukan pendidikan dan pendampingan kepada anak agar ia mampu mentransfer nilai-nilai dan budaya, yang selanjutnya anak bisa membudaya sendiri sebagai manusia yang purnawan.
Catatan penting tentang apakah yang dimaksud dengan manusia purnawan menurut Laporan Komisi Internasional Untuk Pengembangan Pendidikan (Unesco, 1972 dalam Satmoko, 1999), adalah dimensi manusia yang sempurna dinyatakan sebagai orang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan keajaiban yang bersumber pada kegiatan-kegiatan mampu mengamati, mencoba-coba, dan menggolong-golongkan pengalaman dan informasi; mampu menyatakan pendapat dirinya dan mendengarkan suatu perdebatan; mampu melatih kecakapannya dalam menghadapi kesangsian secara sistematis; mampu mempersoalkan  dunia dengan cara mengkombinasikan kerangka pikiran ilmiah.
Dari paparan di atas, pendidikan adalah suatu hal yang benar-benar harus ditanamkan selain menempa fisik, mental dan moral bagi individu-individu peserta didik, agar mereka menjadi manusia yang berbudaya, sehingga mampu memenuhi tugasnya sebagai makhluk yang diciptakan Alah Tuhan Semesta Alam sebagai makhluk yang sempurna dan terpilih sebagai khalifahNya di muka bumi ini, juga sekaligus agar menjadi warga negara yang berarti dan bermanfaat bagi negara.
Oleh karena itu seharusnya pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa; bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,  berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Departemen Pendidikan Nasional, 2003).

C. PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA
Kita harus sadar, bahwa pembentukan karakter dan watak atau kepribadian ini sangat penting, bahkan sangat mendesak dan mutlak adanya, tidak bisa ditawar-tawar lagi. Hal ini cukup beralasan. Mengapa mutlak diperlukan? Karena adanya krisis yang terus berkelanjutan melanda bangsa dan negara kita sampai saat ini belum ada solusi secara jelas dan tegas, lebih banyak berupa wacana yang seolah-olah bangsa ini diajak dalam dunia mimpi. Tentu masih ingat beberapa waktu yang lalu Pemerintah mengeluarkan pandangan, bahwa bangsa kita akan makmur, sejahtera nanti di tahun 2030. Suatu pemimpin bangsa yang besar untuk mengajak bangsa atau rakyatnya menjadi "pemimpi" dalam menggapai kemakmuran yang dicita-citakan.
Banyak kalangan masyarakat yang mempunyai pandangan terhadap istilah "kelatahan sosial" yang terjadi akhir-akhir ini. Hal ini memang terjadi dengan berbagai peristiwa, seperti tuntutan demokrasi yang diartikan sebagai kebebasan tanpa aturan, tuntutan otonomi sebagai kemandirian tanpa kerangka acuan yang mempersatukan seluruh komponen bangsa, hak azasi manusia yang terkadang mendahulukan hak daripada kewajiban. Pada akhirnya berkembang ke arah berlakunya hukum rimba yang memicu kesukubangsaan (ethnicity). Kerancuan ini menyebabkan orang frustasi dan cenderung meluapkan perasaan tanpa kendali dalam bentuk "amuk massa atau amuk sosial".
Berhadapan dengan berbagai masalah dan tantangan, pendidikan nasional pada saat yang sama (masih) tetap memikul peran multidimensi. Berbeda dengan peran pendidikan pada negara-negara maju, yang pada dasarnya lebih terbatas pada transfer ilmu pengetahuan, peranan pendidikan nasional di Indonesia memikul beban lebih berat. Pendidikan berperan bukan hanya merupakan sarana transfer ilmu pengetahuan saja, tetap lebih luas lagi sebagai pembudayaan (enkulturisasi) yang tentu saja hal terpenting dan pembudayaan itu adalah pembentukan karakter dan watak (nation and character building), yang pada gilirannya sangat krusial bagi nation building atau dalam bahasa lebih populer menuju rekonstruksi negara dan bangsa yang lebih maju dan beradab.
Gagasan pembangunan karakter bangsa unggul telah ada semenjak diproklamasikannya republik ini pada tanggal 17 Agustus 1945. Pimpinan nasional kita yang pertama yakni Bung Karno telah pernah menyatakan perlunya nation and character buildings. Walaupun pernyataan tersebut dalam konteks politik, namun secara eksplisit mengandung arti bahwa pembangunan Indonesia tidak cukup hanya dengan membangun fisik akan tetapi harus termasuk membangun karakter dan budaya bangsa. Beberapa tokoh nasional bangsa ini seperti Ki Hadjar Dewantoro juga menyebutkan tentang perlunya character building sebagai bagian integral dari pembangunan bangsa (Rajasa, 2010).
Karakter suatu bangsa berperan besar dalam mempertahankan eksistensi dan kemerdekaannya. Cukup banyak contoh empiris yang membuktikan bahwa karakter bangsa yang kuat berperan besar dalam mencapai tingkat keberhasilan dan kemajuan atau progress pembangunan. Contoh pertama adalah Cina. Negeri ini bisa dikatakan tidak lebih makmur dibandingkan dengan Indonesia di era 1970an. Namun dalam kurun waktu kurang dari 30 tahun, dengan disiplin baja dan kerja keras, Cina telah berhasil bangkit menggerakkan mesin produksi nasionalnya. Budaya disiplin Cina tercermin dari berhasilnya negeri ini menekan masalah korupsi di kalangan birokrasinya secara substansial. Sedangkan budaya kerja keras tampak nyata dari semangat rakyat di negeri ini untuk bersedia bekerja selama 7 hari dalam seminggu demi mencapai keunggulan dan kejayaan negerinya. Saat ini Cina tidak saja menjadi negara pengekspor terbesar, akan tetapi bahkan lebih dari itu, produk ekspor Cina semakin banyak yang memiliki kandungan teknologi menengah dan teknologi tinggi.
Karakter bangsa-bangsa besar lainnya juga hampir sama. Intinya selalu ada kombinasi antara semangat juang, disiplin dan kerja keras. Karakter bangsa Jerman misalnya, adalah ”arbeit” atau kerja keras. Artinya bagi bangsa Jerman, sukses diperoleh melalui suatu kerja keras dan tanpa lelah. ”Budaya instan” tidak ada dalam kamus bangsa Jerman. Dengan arbeit inilah bangsa Jerman, yang pernah kalah dalam dua kali perang dunia, masih sanggup tampil kembali sebagai salah satu mesin ekonomi dan teknologi terkuat, termaju dan termodern didunia.
Tidak perlu disangsikan lagi, bahwa pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pihak baik rumah tangga dan keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah, serta masyarakat luas. Oleh karena itu, perlu menyambung kembali hubungan dan educational networks yang mulai terputus tersebut. Pembentukan dan pendidikan karakter tersebut, tidak akan berhasil selama antar lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan.
Apabila kita cermati bersama, bahwa desain pendidikan yang mengacu pada pembebasan, penyadaran dan kreativitas sesungguhnya sejak masa kemerdekaan sudah digagas oleh para pendidik kita, seperti Ki Hadjar Dewantara, KH. Ahmad Dahlan, Mukti Ali. Ki Hadjar Dewantara misalnya, mengajarkan praktek pendidikan yang mengusung kompetensi/kodrat alam anak didik, bukan dengan perintah paksaan, tetapi dengan "tuntunan" bukan "tontonan". Sangat jelas cara mendidik seperti ini dikenal dengan pendekatan "among"' yang lebih menyentuh langsung pada tataran etika, perilaku yang tidak terlepas dengan karakter atau watak seseorang. KH. Ahmad Dahlan berusaha "mengadaptasi" pendidikan modern Barat sejauh untuk kemajuan umat Islam, sedangkan Mukti Ali mendesain integrasi kurikulum dengan penambahan berbagai ilmu pengetahuan dan keterampilan. Namun mengapa dunia pendidikan kita yang masih berkutat dengan problem internalnya, seperti penyakit dikotomi, profesionalitas pendidiknya, sistem pendidikan yang masih lemah, perilaku pendidiknya dan lain sebagainya.
Oleh karena itu, reformasi pendidikan sangat mutlak diperlukan untuk membangun karakter atau watak suatu bangsa, bahkan merupakan kebutuhan mendesak. Reformasi kehidupan nasional secara singkat, pada intinya bertujuan untuk membangun Indonesia yang lebih genuinely dan authentically demokratis dan berkeadaban, sehingga betul-betul menjadi Indonesia baru yang madani, yang bersatu padu (integrated). Di samping itu, peran pendidikan nasional dengan berbagai jenjang dan jalurnya merupakan sarana paling strategis untuk mengasuh, membesarkan dan mengembangkan warga negara yang demokratis dan memiliki keadaban (civility) kemampuan, keterampilan, etos dan motivasi serta berpartisipasi aktif, merupakan ciri dan karakter paling pokok dari suatu masyarakat madani Indonesia. Jangan sampai yang terjadi malah kekerasan yang meregenerasi seperti halnya yang terjadi di IPDN beberapa waktu yang lalu. Kekerasan fisik yang mengorbankan nyawa dan harta benda tersebut, sangat jelas terkait pula dengan masih bertahannya "kekerasan struktural" (structural violence) pada tingkat tertentu. Akibatnya, perdamaian hati secara hakiki tidak atau belum berhasil diwujudkan (Nurokhim, 2007).

D. TRI PUSAT PENDIDIKAN
Ki Hadjar Dewantara memiliki keyakinan bahwa pendidikan terutama bagi bangsa Indonesia harus dilakukan melalui tiga lingkungan pendidikan yang disebut sebagai tri pusat pendidikan, yaitu lingkungan/alam keluarga, lingkungan/alam perguruan/sekolah, dan lingkungan/alam pergerakan/organisasi pemuda (Satmoko, 1999).

1.      Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga merupakan pusat pendidikan pertama dan terpenting karena sejak timbulnya adab kemanusiaan sampai sekarang kehidupan keluarga selalu berpengaruh besar terhadap perkembangan anak manusia. Filsafat pendidikan yang dikembangkan Ki Hadjar Dewantara tercermin dalam azas-azas “Panca Dharma” yang berisi (1) Kemerdekaan, (2) Kodrat alam yaitu segala kekuasaan alam yang bersifat asli dan jelas dan sewaktu-waktu dapat kita lihat dan kita nyatakan, (3) Kebudayaan, (4) Kebangsaan, (5) Kemanusiaan.
Hubungan antara kelima azas itu dijelaskan oleh Ki Hadjar Dewantara sebagai berikut:
“Berilah Kemerdekaan dan kebebasan kepada anak-anak kita; bukan kemerdekaan yang leluasa, namun yang terbatas oleh tuntutan-tuntuan Kodrat Alam yang khas atau nyata dan menuju ke arah Kebudayaan, yakni keluhuran hidup manusia. Agar kebudayaan tadi dapat menyelamatkan, membahagiakan hidup dan penghidupan diri dan masyarakat, maka perlulah dipakai dasar-dasar kebangsaan, akan tetapi jangan sekali-kali dasar ini melanggar atau bertentangan dengan dasar yang lebih luas, yaitu dasar kemanusiaan”.
Panca Dharma ini harus dilaksanakan oleh setiap orang tua dalam pendidikan keluarga. Tiap peserta didik berhak memperoleh kebebasan untuk mengembangkan kecerdasan, pengetahuan, budi pekerti dan kepandaian setinggi-tingginya sesuai dengan pembawaan masing-masing. Di dalam keluarga diharapkan pula terbinanya rasa kesatuan dan kebudayaan kebangsaan Indonesia, tanpa mengabaikan kemanusiaan sedunia.
2.      Lingkungan Perguruan
Alam perguruan (khususnya balai wiyata) terutama diwajibkan mengusahakan pengembangan kecerdasan dan penguasaan pengetahuan dengan ketentuan agar tidak sampai menjauhkan anak didik dari alam keluarga dan alam kemasyarakatan serta tidak menimbulkan intelektualisme. Untuk meaksanakan hal tersebut guru harus menerapkan Panca Dharma dasar Perguruan Taman Siswa secara teliti. Dasar kemanusiaan, kemerdekaan dan kebudayaan mewarnai corak pendidikan Taman Siswa yang disebut “Pendidikan Nasional”, sedangkan dasar kodrat hidup dan kemerdekaan mewarnai cara penyelenggaraan pendidikan yang disebut “Sistem Among”. Corak Pendidikan Nasional di sini diartikan bahwa pendidikan didasarkan pada kebudayaan kebangsaan, tidak menolak kebudayaan asing tetapi dapat menerima unsur-unsurnya yang tidak merusak kebudayaan sendiri serta selama mampu digunakan untuk menyempurnakan budaya sendiri. Budaya sendiri dijadikan titik tolak dan dasar pendidikan dengan catatan tidak bertentangan atau merugkan kemanusiaan sedunia. Pendidikan nasional ini harus diperuntukkan bagi seluruh warga negara dan menjadi kewajiban pemerintah untuk menyelenggarakannya. Dari sistem among inilah Ki Hadjar Dewantara mengarahkan para pendidik terutama guru-guru di Perguruan Taman Siswa agar berfungsi sebagai “pamong”, yang tidak memerintah dan tidak memberi melainkan “tut wuri handayani”, artinya mengikuti dari belakang sambil terus-menerus menumbujkan kekuatan pada anak didik untuk berkembang. Anak didik diberi kesempatan untuk aktif mencari jalan sendiri; pendidik berkewajiban untuk menyingkirkan hal-hal yang diperkirakan berbahaya, sehingga anak didik bebas berkembang mengatur diri sendiri tetapi dengan mengingat kepentingan orang lain demi damainya kehidupan bersama. Isi dan suasana pendidikan diarahkan pada peningkatan kemerdekaan batin, pikiran dan perbuatan peserta didik. Pendidik tidak memberi hukuman dan ganjaran karena tidak sesuai dengan sistem among. Ki Hadjar Dewantara mempergunakan prinsip hukuman alamiah yaitu hukuman harus dirasakan sebagai akibat logis dari perbuatan sendiri. Keakraban hubungan antara pendidik dan anak didik sangat diupayakan, untuk itu anak didik diasramakan dan pendidik bertindak sebagai pengganti orang tua yang mengarahkan terus menerus anak didik menuju ke pencapaian cita-cita mereka, dengan melalui kehidupan bersama dalam alam keluarga besar.

3.      Lingkungan Pergerakan Pemuda
Pusat pendidikan ketiga dalam konsep Ki Hadjar Dewantara adalah alam pergerakan pemuda, yang diharapkan pimpinannya juga mendasarkan diri pada Panca Dharma. Pergerakan pemuda tidak boleh memisahkan diri dari keluarga maupun pawiyatan. Alam pergerakan pemuda terutama diharapkan menjadi lingkungan pendidikan yang mampu membina pemuda-pemuda melalui pendidikan diri sendiri, memadukan perkembangan kecerdasan, budi pekerti dan perilaku sosial, dengan demikian tri pusat pendidikan masing-masing harus dikembangkan perannya. Perguruan menurut Ki Hadjar Dewantara dijadikan titik pusat dari ketiga pusat tersebut, dan berfungsi sebagai penyambung antara keluarga dan masyarakat.

Sebagaimana sudah disebutkan di atas bahwa tri pusat pendidikan, baik rumah tangga dan keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah, serta masyarakat luas merupakan educational networks mulai terputus. Pembentukan dan pendidikan karakter tersebut, tidak akan berhasil selama antar lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan.

E. PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KELUARGA
Keluarga merupakan lembaga sosial resmi yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak. Ikatan keluarga didasarkan pada cinta kasih suami isteri sehingga melahirkan anak-anak. Setiap bayi dilahirkan dari seorang ibu, dan idealnya keluarga menyambut kelahirannya dengan suka cita. Orang tua bertanggung jawab dengan jalan memelihara, merawat, melindungi anak sehingga anak dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Keluarga menjadi awal kehidupan seorang anak. Keluarga merupakan kestuan hidup bersama yang pertama dikenal oleh anak, dan karena itu disebut sebagai lingkungan pendidikan utama.
Pada masyarakat tradisonal, keluarga memegang peran utama dalam menyiapkan generasi muda untuk menjadi manusia mandiri. Orang tua dan orang dewasa lain dalam keluarga tradisional berfungsi mengasuh dan membimbing anak dalam berbagai bidang kehidupan, melatih berbagai keterampilan dan tradisi. Pada masyarakat modern, keluarga menyerahkan sejumlah fungsinya dalam pendidikan kepada lembaga-lembaga lain yang khusus betugas menangani hal tersebut. Orang tua dan keluarga membatasi kegiatannya pada pengasuhan dasar dan bekerja sama dengan sekolah dalam mendorong anak dan mengawasi pendidikan mereka.
Kompetisi yang ketat menyebabkan orang tua dari “keluarga modern” menuntut anak-anaknya untuk berprestasi tinggi tanpa peduli proses yang terjadi, sehingga anak-anak tertekan untuk menghasilkan skor bagus dengan segala cara. Orang tua lebih senang menyerahkan anaknya kepada guru di sekolah dan guru-guru les di luar jam sekolah (Wirawan, 2010).
Perkembangan pola pendidikan keluarga akhir-akhir ini terancam degradasi karena pengaruh di luar keluarga yang demikian kuat pengaruhnya. Berbagai tuntutan sosial ekonomi yang makin meningkat, agar keluarga tetap eksis, mendorong setiap orang tua bekerja keras untuk menyiapkan masa depan anaknya. Di satu sisi upaya tersebut harus dihargai karena orang tua ingin kehidupan anaknya kelak lebih baik dibandingkan dirinya di masa lalu. Namun di si sisi lain berakibat anak kurang mendapatkan sentuhan jiwani dalam bentuk kasih sayang. Materi menjadi tolok ukur keberhasilan hidup suatu keluarga. Gambaran kehidupan keluarga semacam ini dengan jelas banyak digambarkan dalam sinetron-sinetron kita yang justru banyak ditiru. Pendidikan watak dalam keluarga oleh orang tua sudah digantikan perannya oleh orang tua ambisius dalam sinetron, yang secara materi dan sosial terhormat di lingkungannya. Memang banyak pula orang tua “baik-baik” dan “bijaksana” dalam sinetron tersebut, tetapi pada umumnya mereka hidupnya susah sehingga cenderung tidak diteladani sebagai rujukan perilaku kita.
Kita yang arif mungkin dapat berkilah, “Ah, itu kan sinetron”. Tetapi kita pun harus arif pula, bahwa penyampaian informasi (pembelajaran) lebih mengena dan mengesan serta mudah ditiru dalam bentuk audio visual, dan inilah yang mampu mendegradasikan pendidikan keluarga, terutama pendidikan karakter.
Di depan telah disebutkan bahwa setiap individu sejak kelahirannya sudah membawa bekal hakikat manusia tersebut di atas yang dalam pengembangan diri dan kehidupan selanjutnya dilengkapi lima dimensi kemanusiaan, salah satunya adalah dimensi kefitrahan. Kata kunci yang menjadi isi dimensi kefitrahan adalah kebenaran dan keluhuran (Prayitno, 2009). Dengan dua kata kunci ini dapat dimaknai bahwa individu manusia itu pada dasarnya bersih dan mengarahkan diri pada hal-hal yang benar dan luhur, serta menolak hal-hal yang salah, tidak berguna dan remeh, serta tidak terpuji. Kandungan dimensi kefitrahan ini dapat dibandingkan makna teori tabula rasa John Locke. Teori tabula rasa menyatakan bahwa individu ketika dilahirkan ibarat kertas putih, bersih dan bertuliskan apapun. Dalam hal kebersihan, hal itu menjadi juga ciri kefitrahan individu: ”individu dilahirkan dalam keadaan bersih”; teori tabula rasa sama dengan hakikat kefitrahan. Dengan kefitrahannya itu, individu memang pada dasarnya, sejak dilahirkan, dalam keadaan bersih. Namun kondisi ”belum bertuliskan apapun” sebagaimana dinyatakan oleh teori tabula rasa, tidaklah menjadi ciri dimensi kefitrahan yang dimaksud itu. Di dalam dimensi kefitrahan telah tertuliskkan kaidah-kaidah kebenaran dan keluhuran yang justru menjadi ciri kandungan utama dimensi ini. Cermati hadis Rasulullah saw bahwa, ”Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Nasrani, Yahudi, atau Majusi”. Kefitrahan setiap bayi yang baru dilahirkan adalah membawa potensi fitrah yang harus dikembangkan.
Fitrah adalah bentuk dan sistem yang diwujudkan Allah pada setiap makhluk. Fitrah yang berkaitan dengan manusia adalah apa yang diciptakan Allah pada manusia yang berkaitan dengan jasmani dan akalnya (serta ruhnya), demikan Asyura menafsirkan surat Ar-Rum ayat 30 (2003, dalam Chalil, 2010). Manusia berjalan dengan kedua kakinya adalah fitrah jasadi (jasmani)nya, kemampuan manusia merumuskan masalah dan mengambil kesimpulan adalah fitrah akliah (akal)nya, kemampuan manusia menerima ilham, dan memanfaatkan bashirah adalah fitrah ruhiyah-nya. Jadi dengan demikian dimensi kefitrahan tidak sama dengan tabula rasa menurut John Locke.
Dimensi kefitrahan dengan demikian semestinya dijadikan basis dalam pendidikan karakter dalam keluarga. Rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan. Sebagaimana disarankan Philips (2000, dalam Nurokhim, 2010), keluarga hendaklah kembali menjadi school of love, sekolah untuk kasih sayang atau tempat belajar yang penuh cinta sejati dan kasih sayang (keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warrahmah).
Pada sesi kedua pembukaan Rembuk Nasional Pendidikan 2010 (3/03), menghadirkan mantan Menteri Pertahanan Nasional Juwono Sudarsono sebagi pembicara dalam seminar yang berjudul “Peranan Pendidikan dalam Pembangunan Karakter Bangsa“. Seminar yang dipandu oleh Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal ini banyak membahas mengenai pembentukan identitas bangsa sebagai wahana pendidikan yang berkarakter. Sudarsono mengatakan bahwa pendidikan karakter yang terpenting dimulai dari seorang ibu. Betapapun kuatnya pengaruh sekolah formal, informal dan non formal,  Ibulah yang menanamkan nilai-nilai yang diperlukan dalam kehidupan. Ibu mengajarkan semangat juang dan pantang menyerah. Selain ibu, faktor lingkungan seperti rumah yang nyaman dan  kondusif adalah tempat yang paling tepat bagi seorang anak untuk menumbuhkan rasa percaya diri, berdaya saing dan beradab (http://www.dikti.go.id, 2010).
Senada dengan Sudarsono, Wirawan (2010) menyatakan bahwa beberapa hal yang memungkinkan seorang ibu mempunyai peran dalam kebangkitan pendidikan nasional “melalui pendidikan dalam keluarga” antara lain pertama, orang tua khususnya ibu, adalah agen utama pendidikan bagi putra-putrinya. Kedua, di hadapan Tuhan dan masyarakat dunia, orang tualah yang seyogyanya mengemban tanggung jawab terhadap anak-anaknya, terutama sewaktu mereka masih di bawah pengawasan kita. Ketiga, ibulah yang pertama kali mengenal anaknya, menyusui, dan membesarkannya, sehingga ibulah orang pertama yang menanamkan nilai-nilai penting dan berharga yang menjadi pedomannya untuk menjalani kehidupan ini. Keempat, orang patut aktif berdiskusi dengan guru-guru di sekolah anaknya mengenai hal terbaik bagi perkembangan anaknya. Kelima, orang tua perlu memantau kemajuan ataupun hambatan belajar anaknya, khususnya di rumah. Pada waktu-waktu tertentu, seyogyanya orang tua membahas bersama anak mengenai permainan yang baik, bacaan yang sehat, teknologi informasi yang berguna dan cara pemanfaatannya, film dan musik yang baik untuk dinikmati, bahkan dengan siapa sebaiknya anak bergaul dengan cara yang seperti apa. Keenam, nilai-nilai terbaik yang bersumber dari kitab suci seyogyanya ditanamkan pula kepada anak-anak: kejujuran, kebaikan, kasih sayang, kepedulian, kesetiaan, kedamaian, keterbukaan, kelemahlembutan, penguasaan diri, kesabaran, kemurahan, dan sebagainya.
Dongeng (sebenarnya tidak hanya dongeng tapi juga cerita anak, kisah para nabi, dan kisah-kisah orang seperti yang diceritakan dalam kitab suci) yang dibaca ketika masih kanak-kanak atau yang diceritakan oleh orang tua atau guru ketika masih kanak-kanak, ternyata mempunyai pengaruh yang sangat besar pada pembentukan karakter anak tersebut. Bahkan, dongeng atau cerita anak yang berjudul sama dengan inti yang sama mempunyai pengaruh yang berbeda bagi beberapa anak (Sulthanah’s Weblog, 2008).
Bagaimana jadinya kalau dongeng atau cerita anak itu sengaja ditulis dan diceritakan kepada anak-anak? Pengaruh yang ditimbulkannya pasti akan dahsyat sekali. Penulis sengaja menggarisbawahi kata ‘sengaja’ karena dongeng-dongeng yang diceritakan kepada anak-anak hanya dongeng-dongeng yang mengandung nilai n-Ach (the need for achievement – kebutuhan berprestasi) yang tinggi, yaitu: optimisme yang tinggi, keberanian untuk mengubah nasib, dan sikap tidak gampang menyerah.
Namum demikian, dalam konteks ini, menyangkut tiga hal yang menjadi ukuran tinggi-rendahnya nilai n-Ach—sebagaimana diandaikan McClelland—tidaklah bersifat mutlak, artinya tidak harus demikian persis, melainkan bisa disesuaikan dengan nilai-nilai moral-etik yang berkembang di dalam budaya kita, sesuai dengan kearifan lokal (local-wisdom) kita sendiri. Misalnya, sebagai bangsa Indonesia, kita bisa merasukkan sikap-sikap semacam: patriotis dan berani membela yang benar—sebagaimana tecermin dalam simbol bendera pusaka, solidaritas sosial—sebagaimana tersirat dari sila keadilan sosial dalam Pancasila, toleransi budaya—sebagaimana terekspresi dalam semangat “Bhineka Tunggal Ika”,  berdisiplin (karena kita merasakan sendiri, bangsa Indonesia adalah bangsa yang mentoleransi keterlambatan dan tidak pernah datang tepat waktu), dan seterusnya.
Kalau dongeng-dongeng yang diceritakan pada anak-anak adalah dongeng-dongeng yang terkurikulum: sengaja ditulis, mengandung nilai n-Ach tinggi, dan didekasikan untuk anak-anak serta tidak hanya diceritakan oleh satu guru tapi oleh semua guru, penulis yakin, semakin dahsyatlah pengaruh dongeng itu terhadap anak-anak.
Memang dongeng ini takkan terlihat dampaknya dalam hitungan satu atau dua tahun mendatang, tetapi – merujuk David McClelland – 25 tahun kemudian, cerita anak-anak yang mengandung nilai n-Ach yang tinggi pada suatu negeri selalu diikuti dengan adanya pertumbuhan yang tinggi dalam negeri itu. Dengan kata lain, jika “sekolah imajinasi” mulai diberlakukan di keluarga –dan sekolah tentunya– (dengan dongeng dan cerita anak lain yang terkurikulum dan mengandung nilai n-Ach yang tinggi), dalam 25 tahun yang akan datang tepatnya tahun 2033 terbentuklah generasi Indonesia yang mempunyai optimisme tinggi, berani mengubah nasib, tidak pantang menyerah, patriotis dan berani membela yang benar, mempunyai toleransi budaya dan nilai-nilai n-Ach lainnya yang sengaja disisipkan dalam dongeng-dongeng yang ditulis atau dibacakan atau diceritakan untuk anak-anak. Itulah barangkali yang penulis ingat sekarang, bahwa demikian besar peran ibu dalam membentuk karakter anak-anaknya dan bangsanya.
Penulis ingat betul ketika ibu di rumah dan ibu guru di sekolah dasar sering menceritakan kisah keluarga Pandawa dan Kurawa, bahwa “pendidikan karakter” yang dilakukan Dewi Kunti terhadap kelima anak laki-lakinya ternyata memberikan dampak yang jauh berbeda dengan Dewi Gandari terhadap seratus anak-anaknya, laki-laki dan perempuan. Hasil pendidikan Dewi Kunti menggambarkan anak didik yang bermartabat berperilaku santun, tidak mudah putus asa, selalu bersemangat, menjunjung tinggi kebersamaan, teliti dan hati-hati, kejujuran, kesabaran, kesetiaan, dan perilaku-perilaku yang menggambarkan karakter baik. Sementara itu di sisi lain karena kedengkian dan keirihatian Dewi Gandari menular kepada anak-anaknya yang nampak dalam perilakunya yang culas, gembira di atas penderitaan orang lain, suka mencelakakan orang lain, curang, ceroboh, dan perilaku-perilaku lain yang negatif. Pemimpin negara yang lahir dari keluarga Dewi Kunti adalah pemimpin yang demokratis dan melindungi rakyatnya, sementara dari didikan Dewi Gandari melahirkan pemimpin negara yang korup, penindas rakyat dan anarkis.
Pengembangan pendidikan yang dilakukan oleh Dewi Gendari adalah pendidikan yang bermuatan soft skill yaitu pendidikan yang tidak semata-mata mementingkan aspek kognitif dan prestasi unggul, tetapi juga akhlakul karimah, moral dan perilaku yang baik. Jika pendidikan keluarga mengembangkan pendidikan karakter, sudah pasti ke depan bangsa kita menjadi bangsa yang disegani oleh bangsa-bangsa lain karena perilakunya yang cerdas dan santun.
Istadi (2007) dan Prayitno (2009) mengingatkan bahwa, keteladanan orang tua sangat penting dalam pembentukan karakter anak, karena sejak kecil mereka selalu berusaha meniru apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Cara peniruan yang paling awal dan “primitif” dapat dilihat pada hubungan antara anak dengan orang tuanya. Melalui peniruan-peniruan awal itulah seorang bayi mulai secara aktif mengarahkan diri untuk memasuki lingkungan sekitarnya; melalui peniruan-peniruan itu pulalah anak terarah menjadi bagian dari lingkungan, terutama lingkungan sosialnya. Betapa pentingnya peniruan itu dapat ditangkap dengan menyimak kalimat-kalimat, “tanpa peniruan kehidupan kemanusiaan tidak akan berkembang”; “tidak akan ada kehidupan manusiawi tanpa peniruan”; “peniruan adalah dasar kehidupan bersama”.
Melalui pengarahan dan peniruan-peniruan itu pula anak mengikatkan diri kepada (sejumlah) significant persons, yaitu orang-orang yang besar pengaruh, peranan, dan artinya bagi anak. Anak-anak memfokuskan peniruannya kepada orang yang sngat dekat dan penting bagi dirinya itu; dalam hal ini biasanya adalah kedua orang tuanya. Anak banyak meniru dari kedua orang tuanya.
Berkat peniruan yang intensif dalam pergaulan lingkungan keluarga, terbentuklah tokoh identifikasi, yaitu tokoh yang dianggap selalu benar, tokoh yang menjadi pusat peniruan dan panutan, tokoh ideal dan idola bagi anak atau peserta didik. Di sinilah keteladanan orang tua memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembentukan karakter bangsa. Seorang gadis kecil ketika ditegur oleh ibunya sepulang sekolah karena melemparkan sepatunya di depan kulkas, dengan sigap ia menjawab, “Bapak saja setiap pulang dari kantor sepatunya ditaruh di bawah meja makan boleh, kadang ditaruh di bawah aquarium di ruang tamu juga boleh. Aku kan ingin seperti bapak”. Si ibu tidak kehilangan akal, suaminya yang sedang baca koran setelah makan siang digandeng ke depan aquarium dan diminta untuk ambil sepatunya, dengan masih menggandeng tangan si suami, ibu menghampiri putrinya, digandengnya ke depan kulkas. Suami di tangan kanan dan anak di tangan kiri –masing-masing menenteng sepatunya– digelandang ke rak sepatu, dan dikatakan “Mulai hari ini dan seterusnya bapak dan adik setiap pulang harus meletakkan sepatu di rak ini”.
Sejak itulah bapak menaruh sepatu di rak setiap pulang kantor, dan adikpun dengan tertib menaruh sepatunya di rak setiap pulang sekolah atau pulang dari bepergian. Sehebat itulah peran orang tua sebagai teladan bagi anak-anaknya. Baik teladan baik maupun teladan buruk. Maka, berhentilah berbicara dan menasehati jika tidak sesuai dengan apa yang bapak ibu lakukan.
Kebanyakan orang tua memandang sepele masalah keteladanan ini, hingga melupakannya dalam banyak persoalan. Padahal, peran keteladanan ini berlaku dalam segala keadaan, dari yang besar hingga yang sepele sekalipun.
Jangan heran jika orang tua kewalahan meminta anak pergi mengaji, sementara anak tidak pernah melihat orang tuanya mengaji. Bahkan ketika memotivasi anak untuk belajar di rumah pun menjadi jauh lebih mudah ketika ayah ibunya pun turut mendemonstrasikan kesibukan mereka membaca di depan anak-anaknya.
Ambil buku, baca dan pelajarilah dengan serius, maka anak akan meneladaninya. Belilah buku-buku terbaru di toko buku, baca dan buat catatan-catatan kecil jika perlu, demonstrasikan itu di depan anak. Maka mereka akan mencontohnya walau tanpa diperintah. Usahakan setiap selesai sholat maghrib membaca Al-Qur’an di samping anak, maka mereka pun antusias menitu perilaku kita.
Teladan memang proses utama dalam mendidik anak. Jadi, orang tua yang menginginkan anaknya menjadi baik maka mereka harus terlebih dulu membuat dirinya sendiri menjadi baik. Jika menginginkan karakter anaknya “cerdas”, maka lebih dahulu orang tualah yang harus membangun karakternya menjadi cerdas.

F. AKHIR KATA
Karakter bangsa tidak saja menentukan kemampuan sebuah bangsa untuk hidup mandiri, akan tetapi lebih dari itu, karakter bangsa bahkan menentukan jalan hidup dan nasib bangsa tersebut. Oleh karena itu pembentukan karakter bangsa harus harus dimulai dari keluarga.
Pendidikan dalam keluarga merupakan basis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kesadaran orang tua dalam mendidik anaknya memberi konstribusi besar dalam pembentukan karakter bangsa.



DAFTAR PUSTAKA


Chalil, Achjar. 2008. Pembentukan Karakter Peserta Didik melaui Pendekatan Pembelajaran Berbasis Fitrah. Tersedia on line di http://agupenajateng.net/ 2009/02/13/pembentukan-karakter-peserta-didik-melalui-pendekatan-pembelajaran-berbasis-fitrah/ diunduh 5 Mei 2010

Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.


Istadi, Irawati. 2007. Melipatgandakan Kecerdasan Emosi Anak. Bekasi: Pustaka Inti.

Nurokhim, Bambang. 2007. Membangun Karakter dan Watak Bangsa Melalui Pendidikan Mutlak Diperlukan. Tersedia on line di http://www.tnial.mil.id/ Majalah/Cakrawala/ArtikelCakrawala/tabid/125/articleType/ArticleView/articleId/200/Default.aspx diunduh 5 Mei 2010

Ramli, Nuri. 2008. Rainbow Plan: Reformasi Pendidikan di Jepang. Tersedia di http://indosdm.com/rainbow-plan-reformasi-pendidikan-di-jepang diunduh 13 Mei 2010.

Rajasa, M. Hatta. 2007. Memaknai Kemerdekaan Dari Perspektif Pembinaan Karakter Bangsa. Tersedia on line di http://www.setneg.go.id/index.php?option=com_ content&task=view&id=738&Itemid=135 diunduh 5 Mei 2010

Satmoko, Retno Sriningsih. 1999. Landasan Kependidikan (Pengantar ke arah Ilmu Pendidikan Pancasila). Semarang: IKIP Semarang Press

Sultanah Weblogs. 2008. Sekolah Imajinasi dan Peranannya Dalam Pembentukan Karakter Bangsa. Tersedia on line di http://sulthanah.wordpress.com/sekolah-imajinasi-dan-peranannya-dalam-pembentukan-karakter-bangsa/ diunduh 5 Mei 2010

Wirawan,Henny E. 2010. Bunda Agen Kebangkitan Pendidikan. Majalah Psikologi Plus Volume IV Nomor 11/Mei 2010. Semarang: Nico Sakti.



[1] Lektor Kepala Kopertis VI Jawa Tengah dpk pada Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Muria Kudus, sekarang juga menjabat sebagai Dekan FKIP.

0 komentar:

Post a Comment

Search

INFORMASI PEMBAYARAN KMD

INFORMASI PEMBAYARAN KMD

Form Pengajuan Judul Skripsi 2017/2018

Agenda

Agenda

Informasi Akademik Terbaru

Seminar Nasional Bimbingan dan Konseling

Hari: Sabtu, 6 Agustus 2016
Pembicara :
1. Drs. Nasruddin (Dirjen PAUD Dikmas)
2. Dr. Muh Farozin, M.Pd (Ketua Program Studi BK Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta)
3. Dr. Santoso, M.Pd. (Koordinator CYLIN UMK dan Sekretaris Program Pascasarjana S2 Pendidikan Dasar Universitas Muria Kudus)

Artikel Terpopuler

Arsip Berita

Powered by Blogger.

Download

Materi Kuliah Perdana (5 Maret 2014) Oleh: Dr. Adi Atmoko, M.Si